Sumatera Bagian 2

Hujan terus menerus mengguyur diperjalanan menuju Aceh. Ketika saya akhirnya sampai di sebuah pom minyak saya putuskan untuk berhenti karena hari sudah mulai gelap dan hujan sangat deras. Sebelum memutuskan bermalam disana saya meminta ijin dari petugas disana dan mereka membolehkan saya menginap disana. Ternyata area ini dipenuhi banyak sekali café dangdut dan hotel-hotel murah, saya ketahui ini setelah malamnya saya mendengar music dan bercakap-cakap dengan petugas disana.Ketika saya hendak tidur ( dari tempat saya beristirahat saya bisa melihat motor saya) datang seorang pemuda dengan motor dan mencoba untuk menjatuhkan motor saya, awalnya saya hanya memperhatikan dari dalam ruangan dan dikarenakan motor saya roda empat dia tidak bisa menjatuhkan motor saya dan lalu pergi. Tak lama kemudian dia datang kembali dan menabrakan motornya kebelakang motor saya dan ketika saya keluar dia pun pergi. Sesaat kemudian dia datang kembali, kali ini dengan seorang teman dan saya keluar berbicara dengan dia dan bertanya apa maksudnya menabrakkan motornya ke motor saya dan dia pun bilang dia pemuda setempat dan saya harus minta ijin dari dia untuk menginap disana dan saya bilang saya tidak ada urusan dengan dia dan saya sudah dapat ijin dari yang punya tempat tapi dia masih berargumen dan memaksa saya untuk membayar. Akhirnya saya bilang saya akan lapor polisi dan saya tidak takut dengan dia dan meninggalkannya dan dia pun tak lama pergi. Saya sangat mengkhawatirkan motor saya akhirnya saya pun mendapat nomer polisi dari beberapa teman bikers dan tak lama kemudian polisi datang mengecek keadaan saya begitu juga beberapa teman bikers. Saya berterimakasih sekali kepada semua teman-teman bikers yang menolong saya saat itu.

544_20150923_064858

Terror di Pom Minyak ini

544_20150923_064849

Lokasi tempat saya bermalam

544_r_20150923_004019

Para bikers datang mengunjungi saya

Keesokan harinya saya melanjutkan perjalanan ke Aceh dan lagi-lagi saya harus menginap di pom minyak. Kali ini pom minyak ini memiliki pondok khusus untuk orang-orang beristirahat dan untungnya bukan saya saja yang menginap disana malam itu.

Keesokan paginya hujan deras sekali  dan saya  memutuskan untuk menunggu sehingga hujan reda baru melanjutkan perjalanan saya. Ketika duduk di motor saya dan menunggu hujan reda, ada tiga bapak-bapak menghampiri saya dan menanyakan soal motor dan perjalanan saya. Lalu, mereka mengajak saya duduk di pondok untuk bercerita sambil menunggu hujan reda. Sesampainya di pondok, bukannya bercerita mereka mulai mengeluarkan banyak sekali uang dari tas mereka dan mulai menghitung uang sambil sesekali bilang ke saya “ tenang saja kami bukan orang jahat”.setelah selesai menghitung uang dan membaginya mereka juga membagikan sedikit uang untuk saya, kata mereka untuk menambah uang beli bensin. Setelah selesai membagikan uang kamipun berpisah dan sampai sekarang saya masih penasaran darimana uang itu berasal. Saya rasa mereka menang judi, entahlah.

Saya semangat sekali menuju Aceh karena saya satu langkah mendekati  akhir perjalanan saya dan juga Kilometer  Nol Indonesia. Saya mendengar banyak sekali cerita tentang Aceh, mulai dari Tsunami sampai dengan hukum islam yang sangat ketat, hal ini membuat saya sedikit gugup. Sesampainya saya di provinsi Aceh ditengah jalan V-belt saya putus dan saya harus mendorong motor saya kebengkel terdekat ditengah teriknya panas matahari.  Setelah menunggu setengah hari akhirnya motor saya kembali dapat digunakan.

544_20150923_121213

Ganti fan belt #1

544_20150923_121850

Ganti fan belt #2

544_20150924_074550

Sawah- sawah di sepanjang perjalanan

544_20150924_091839

Transportasi yang umum di kampung-kampung walaupun ini ilegal sebenarnya.

544_20150924_092254

Sungai yang Indah di perjalanan

Saya sampai di Banda Aceh satu hari sebelum Idul Adha dan semua orang mempersiapkan untuk perayaannya. Dari yang saya dengar mereka akan merayakannya selama satu minggu. Saya ingin sekali berkunjung ketempat-tempat wisata di Aceh seperti Museum Tsunami dan beberapa tempat wisata tsunami lainnnya tapi semua tempat wisata di Aceh tutup jadinya saya hanya bisa mengambil gambar dari luar. Akhirnya saya putuskan untuk langsung ke Sabang,kapal menuju Sabang sangat penuh dengan wisatawan lokal yang juga ingin berwisata kesana. Hal yang lucu ternyata di Sabang hukum islam tidak seketat di daerah Aceh lainnya. Di sabang juga terdapat gereja dan banyak juga warga dan turis yang tidak mengenakan kerudung. Saya rasa banyak kesalahpahaman tentang hukum islam, di Aceh yang membuat orang sedikit takut untuk datang kesana, Harusnya daripada takut dan percaya dengan informasi yang tidak jelas ada baiknya kita datang dan bertemu secara langsung dengan masyarakat disana sebelum kita mengambil kesimpulan.

544_20150924_101204

Pemotongan hewan qurban

544_20150924_150527

Menyeberang Ke Sabang

544_r_20150924_150538

Berpose dulu sambil menunggu antrian

Saya suka sekali Sabang, kota yang sangat cantik sekali dan pantai-pantai yang terdapat di Sabang sangat cantik sekali. Saya kemping di pondok di pinggir pantai dan keesokan harinya langsung menuju Kilometer Nol Indonesia.

544_20150925_064625

Pondok tempat saya bermalam di Sabang

544_20150925_064630

Sabang 

544_20150925_084319

“Tugu selamat datang di kawasan wisata Sabang”

544_20150925_091829

Kilometer 0

544_20150925_095610

Pantai Iboih #1

544_r_20150925_095104

Monumen Kilometer 0 yang pertama

544_20150925_100444

Pantai Iboih #2

544_20150925_105834

Walikota Sabang

544_20150925_170200

Museum Tsunami 

544_20150926_082533

Perjalanan ke Meulaboh #1

544_20150926_091631

Perjalanan ke Meulaboh #2

544_20150926_093922

Mirip dengan skyline di Jayapura tapi ini di Aceh

544_20150926_104137

Sapi-sapi di Jalan raya!

544_20150927_170408

Kabut di perbatasan Aceh dan sumatera Utara

544_20150928_085644

Sarapan pagi dengan bapak-bapak polisi di Sidakalang

544_20150928_103348

Wisata Iman di Sidikalang

Dari Aceh tinggal satu provinsi lagi yang tersisa untuk menyelesaikan perjalanan saya yaitu Provinsi Kepulauan Riau. Untuk dapat mencapai provinsi Kepulauan Riau saya harus kembali ke Riau. Dikarenakan ambisi saya untuk dapat menyelesaikan perjalanan ini dalam waktu satu tahun saya ingin secepatnya sampai di Kepulauan Riau. Saya paksakan untuk berkendara kurang lebih 600 km dalam satu hari, saya berkendara siang dan malam dan hanya berhenti sesekali untuk minum, isi bensin atau ke toilet. Mungkin untuk kendaraan yang berkapasitas besar 600km tidak ada apa-apanya akan tetapi kendaraan saya roda empat dan hanya 110 cc jadinya memakan waktu yang sangat lama sekali. Saya tersesat beberapa kali dikarenakan ada dua pelabuuhan dengan nama yang sama danmasuk kejalan kebun kelapa sawit yang sudah tidak dilalui kendaraan umum di malam hari pula. Saat itu sangat gelap sekali dan tidak ada orang sama sekali ditambah lagi jalanan tanah merah. Setelah tersesat di tengah kebun kelapa sawit akhirnya saya menemukan jalan raya dan sampai juga ke pelabuhan Buton. Pagi harinya saya langsung menyebrang ke Tanjung balai Karimun.

544_r_20150929_181247

Perjalanan Ke Pelabuhan Buton

544_20150929_141742

Riau masih bersasap

Saya mempunyai beberapa teman di Tanjung Balai Karimun sehingga saya tidak kesulitan untuk menemukan akomodasi selama saya disana. Sampai di Tanjung balai Karimun saya baru menyadari ternyata kedua kaki saya bengkak dan pergelangan kaki saya sakit sekali setiap kali saya berjalan  karena duduk di motor dalam posisi yang sama dalam waktu yang lama sekali tapi saya senang sekali saya akhirnya sampai di provinsi terakhir perjalanan saya.

544_20151001_175148

Bermain bersama anak-anak

544_20151002_141019

Prasasti Tanjung Balai Karimun

544_20151003_112420

Bersama bikers antik Karimun

544_20151005_074014

Ketemu bikers lagi di Tanjung Balai Karimun

Dari Tanjung Balai Karimun saya menyebrang ke Tanjung Pinang dan dari sana lalu menyebrang ke Batam.

544_20151005_122434

Pantai Trikora Tanjung Pinang, Kepulauan Riau 

Di Batam saya tinggal di rumah paman saya sambil menunggu kapal  ke Jakarta. Saya putuskan unutk langsung menyebrang ke Jakarta karena keadaan motor saya yang sudah tidak memungkinkan untuk dipakai di perjalanan jauh dan saya tahu jalanan di Sumatera cepat sekali rusak dan berlobang karena saya sudah sering kali melintasi jalan ini.

Kapal yang akan saya tumpangi merupakan kapal penumpang dan biasanya tidak dibenarkan untuk membawa kendaraan kecuali di packing di dalam container. Saya meminta ijin dari perusahaan kapal dan otoritas pelabuhan dan diijinkan membawa motor saya. Akhirnya setelah 27 jam di dalam kapal dan bersama para kecoa saya sampai di Jakarta. Akhirnya !!!

544_20151009_054404

Derry ke Jakarta

544_r_20151008_202949

Kecoa di dalam ferry :(