Langkah Pertama

Perjalanan saya dimulai dari kampung saya di sebuah desa tidak jauh dari Pekanbaru. Satu hari sebelum Idul adha atau hari raya qurban. Beberapa orang sudah mulai merayakan hari raya ketika saya meninggalkan kampung saya. Saya sudah merencanakan perjalanan ini diam-diam beberapa bulan sebelumnya. Berita tersebar dengan mudah di kampung oleh karenan itu saya hanya menceritakan rencana saya pada ayah saya biar saya tidak jadi pusat perhatian. Setelah meninggalkan Lirik saya melaju dengan cepat kearah Belitung, karena kapal dari Belitung ke Pontianak hanya 2 minggu sekali, dan saya hanya punya waktu beberapa hari untuk sampai ke Belitung.

Hari pertama saya diwarnai dengan kabut asap dimana-mana. Saya bahkan melewati beberapa kebun sawit yang terbakar. Kebakaran hutan sudah menjadi agenda rutin di Sumatera, beberapa kali terjadi penutupan bandara dan perubahan jadwal ferri karena kabut asap. Banyak orang sakit karena kabut asap tapi pemerintah sepertinya tidak melakukan banyak hal untuk mengatasinya. Banyak orang yang membakar hutan tapi mereka bisa lepas dari jerat hukuman begitu saja. Banyak orang membakar hutan untuk membuka lahan baru dan di banyak kasus di Sumatera biasanya perusahaan besar membayar orang untuk membakar hutan supaya mereka bisa terlepas dari sangsi dan biasanya mereka memang bisa cuci tangan. Orang-orang ini hanya peduli terhadap uang dan mereka ingin untuk merubah semua hutan menjadi kebun kelapa sawit atau kebun karet. Aku mengambil gambar ini di siang hari. Dulu biasanya siang hari terang benderang dan matahari bersinar terang, sekarang semuanya tertutup kabut asap.

544_20141005_070451

Kabut asap

544_20141005_144639

Kebakaran hutan

544_20141005_144733

Hutan

Saya berkendara seharian bahkan sampai lupa untuk makan dan akhirnya bisa menemukan tempat tidur 304km dari rumah orangtua saya. Perjalanan saya terhambat dikarenakan diperjalan motor saya mengalami kerusakan beberapa kali. Satu hari sebelum keberangkatan saya, saya ke bengkel untuk mengencangkan semua baut dan mengganti ban belakang motor saya. Tapi salah satu mekanik tidak tahu apa yang dilakukannya dan akhirnya merusakkan salah satu tempat baut saya dan juga mengganti baut yang seharusnya baut 14 menjadi baut 12, karena itulah diperjalanan motor saya mengalami masalah beberapa kali.

Di hari pertama saya, saya berhenti di kantor polisi untuk mendapatkan tanda tangan untuk bukti perjalanan saya. Dan dikarenakan hari sudah gelap dan lingkungan sekitar hutan, Pak polisi berkeras supaya saya beristirahat dikantor polisi. Di belakang kantor polisi ada sebuah ruangan kosong , dan saya pun senang ditemani beberapa kodok dan kucing disana. Di ruangan itu juga tersedia kamar mandi, mungkin bukan kamar mandi yang terbersih yang pernah saya temui tapi lumayanlah senang akhirnya bisa mandi setelah perjalanan jauh menempuh kabut asap dan debu. Saya rasa pak polisi khawatir dan kasihan dengan saya karena tidak biasanya wanita melakukan perjalan jauh sendirian. Hari yang sulit tapi saya senang bisa melewatinya.

The Empty Building

Ruang kosong

544_20141004_184211

Kamar Mandi

Saya bangun jam 5 pagi keesokan harinya. Saya merasa aman tidur di kantor polisi tapi nyamuk dan banyaknya kucing keluar masuk membuat tidur saya sedikit terganggu, tapi saya senang berada di jalanan dan menikmati kebebasan saya. Saya mengemasi barang-barang saya dan melanjutkan perjalanan saya. Di perjalanan menuju Palembang banyak toko dan pompa  yang tutup bahkan hampir semua toko tutup dikarenakan hari raya idul adha. Tapi untungnya di Indonesia ada bensin ketengan atau bensin pinggir jalan. Harganya beragam, tergantung penjual. Di salah satu pompa minyak yang tutup saya menemukan ini ;

544_20141005_083827

Vespa Gembel

Namanya Komunitas vespa gembel. Mereka biasanya sengaja memodifikasi vespa mereka untuk menjadi seaksentrik mungkin dan saya berpapasan dengan beberapa dari mereka di perjalanan saya. Kamu akan terkejut dengan berapa jauh mereka bisa melakukan perjalanan dengan vespa gembel ini. Untuk sebagian orang vespa ini terlihat seperti sampah tapi buat mereka ini merupakan ekspresi dari kreatifitas mereka. Di perjalanan saya, saya juga bertemu dengan dua truk yang mengalami kecelakaan. Salah satu supir truk bahkan berpose untuk saya ketika saya akan mengambil gambar, lucu sekali. Akan tetapi supir truk yang lain terlihat kurang senang ketika saya mengambil gambar.

Crash #1

Kecelakaan #1

Crash #2

Kecelakaan #2

Perjalanan ini sangat berat karena hamper setengah dari jalan raya rusakdan saya harus berkendara pelan-pelan sekali karena banyak sekali lubang di jalanan. Jalan menuju pelabuhan tanjung api-api rusak parah dan terlihat seperti  paska gempa bumi.

The Bad Road

Jalan rusak

Diperjalanan motor saya terbalik satu kali karena ada lobang yang sangat dalam, tapi saya dan motor saya baik-baik saja dan untungnya ada mas-mas baik yang menolong saya. Setelah terbalik saya rasanya ingin menangis tapi saya akhirnya menertawai kekeras kepalan saya. Lebih dari 60km saya mulai tersenyum sendiri setiap melewati jalan yang buruk dan saya mulai bercakap=cakap dengan motor saya, menyemangati motor saya supaya menjadi tegar. Orang-orang mesti berfikir saya gila karena saya tersenyum sendiri dan mereka mengira saya tersenyum ke mereka jadi banyak yang tersenyum balik kepada saya.

Akhirnya saya sampai juga di Pelabuhan Tanjung api-api, pelabuhan yang akan menyebrangkan saya menuju Bangka. Tetapi ketika saya sampai disana feri sudah berangkat jadi saya harus bermalam di pelabuhan.

Where I slept at the port #1

Tempat saya tidur di pelabuhan 

Semua Karyawan di pelabuhan berfikir saya berani sekali melakukan perjalanan sendirian dan mereka baik sekali terhadap saya. Pelabuhan Tanjung api-api baru dibangun namun saying sekali hamper semua fasilitas rusak. Hal baiknya adalah semua orang baik sekali pada saya dan saya naik kapal gratis.

Tanjung Api-api Port

Pelabuhan Tanjung Api-api 

2 pemikiran pada “Langkah Pertama

What do you think?