Perjalanan Panjang Ke Kalimantan

Saya tiba di Pontianak dan sudah tidak sabar untuk turun dari feri. Berada di feri selama kurang lebih 40 jam sangat membosankan. Kali ini saya naik feri juga gratis karena dapet dispensasi. Feri ini berbeda dengan feri sebelumnya, di feri ini terdapat dua ruangan besar. Satu ruangan tempat lesehan, saya tidak berkeberatan diruangan ini sampai banyak sekali orang yang masuk dan mereka mulai merokok, walaupun banayak tulisan “Dilarang merokok” disana. Hal itu membuat saya panik karena saya akan berada disana selama kurang lebih 40 jam di ruangan yang penuh asap rokok.

Room #1

Ruangan #1

Tapi akhirnya saya bisa pindah ke ruangan satunya, diruangan ini terdapat tempat tidur bertingkat dan hanya kurang lebih 15 orang disana, saya merasa lebih aman dan nyaman diruangan ini.

Room #2

Ruangan #2

Saya orang yang pertama datang untuk masuk kekapal dikarenakan saya harus memasukkan motor saya sebelum semua truk dan mobil. Setelah saya ada tiga orang remaja dari Afghanistan dan kami pun langsung berkenalan. Saya tiba sekitar pukul dua siang dan tiga orang pemuda tadi datang sekitar pukul 3 siang dan sekitar pukul setengah empat orang-orang mulai berdatangan. Kapal ini mulai berangkat tengah malam. Ketika saya pindah ke ruangan yang lebih nyaman, saya menanyakan ke awak kapal berapa yang harus di bayar untuk pindah ke kamar tersebut dan ternyata hanya 31.000 rupiah. Saya langsung mengajak ketiga pemuda Afghanistan tadi untuk pindah juga. Awalnya banyak calo yang mengatakan untuk pindah ke ruangan yang ada tempat tidurnya, mereka harus membayar 250ribu/ 2 orang. Di kapal ini banyak sekali penipuan, ketika kami pindah ke ruangan yang ada tempat tidurnya, satu orang dengan pakaian satpam dan satu orang setengah  mabuk mendatangi kami. Mereka mengira saya salah satu orang Afghanistan juga dan meminta uang dari kami karena mengira kami adalah warganegara Afghanistan yang masuk ke Indonesia secara illegal. Aku mengatakan kepada mereka bahwa kapten kapal tahu keberadaan saya dan saya akan menelpon kepten jika mereka tidak pergi, dan akhirnya mereka pun pergi. Sayang sekali saya tidak sempat mendapatkan foto mereka tapi mereka sudah saya laporkan ke pihak yang berwenang.

Sudah hampir jam enam ketika akhirnya motor saya bisa keluar dari kapal, dan saya pun melanjutkan perjalanan kea rah perbatasan, karena dari Pontianak ke perbatasan Entikong sekitar lima jam dengan mobil dan kalau dengan motor saya akan lebih lama lagi. Akhirnya sekitar jam 9 malam saya berhenti di sebuah warung yang biasanya disinggahi para supir truk, Ibu warung bersikeras supaya saya bermalam saja disana karena hari sudah malam.

The small shop A.K.A Warung

Warung

Di kawasan ini signal handphone agak susah dan di sini satu-satunya tempat untuk mendapatkan signal handphone adalah diatas kedua kulkas, tapi kamu tidak boleh memindahkan telepon atau menyentuhnya, jadi satu-satunya cara adalah denga memakai loudspeaker. Lucu sekali.

Those magic fridges.

Dua kulkas ajaib

Setelah selesai ngobrol-ngobrol dengan semua orang diwarung, saya bersiap-siap untuk tidur dan menyikat gigi. Saya menyikat gigi di tempat saya memarkirkan motor saya dan ibu pun menyuruh saya ke kamar mandi dibelakang warung, saya tidak suka menggunakan kamar mandi karena biasanya kamar mandi letaknya jauh sekali dan susah sekali buat saya untuk sampai kesana dan biasanya kamar mandinya licin sekali. Akan tetapi di warung ini kamar mandi letaknya pas dibelakang warung jadi akses kesana lebih mudah buat saya. Sesampainya saya dikamar mandi saya terkejut sekali melihat warna air di sana, warnanya aneh seperti warna air selokan, saya putuskan untuk tidak menyentuh airnya dan  menelan sisa pasta gigi dan langsung tidur. Nantinya saya mengetahui bahwa air di sekitar daerah ini memang warnanya begitu dikarenakan alasan tertentu. Tapi untuk orang yang tidak pernah lihat air seperti itu tentunya saya memilih yang teraman buat saya karena perjalanan saya masih jauh dan sakit bukan pilihan.

The red water

Air Merah

The place I slept

Tempat saya tidur

Saya bangun jam lima pagi dan hari sudah terang, jadi saya lanjutkan perjalanan saya menuju perbatasan Entikong. Dan pertama kalinya saya melihat kabut, tapi itu bukan kabut akan tetapi benar-benar embun pagi. Suasana disekeliling saya sangat indah dan udara pagi terasa segar. Saya bahkan sempat melihat babi menyebrang jalan dan saya juga melihat ada truk yang terbalik.

Misty Morning #1

Embun pagi #1

Misty Morning #2

Embun Pagi #2

Misty Morning #3

Embun pagi #3

Why did the pig cross the road?

Babi menyebrang jalan

Crash

Truk kecelakaan 

Tapi seperti segala sesuatunya didalam hidup, tidak ada yang bertahan selamanya. Dan di situasi ini, setelah satu jam dari warung saya menginap jalanan mulai buruk sekali dan sangat berdebu. Para supir truk yang saya jumpai tadi malam sudah mengingatkan saya akan hal ini jadi saya sudah mempersiapkan diri untuk jalan rusak, apalagi setelah berhasil melewati jalan menuju pelabuhan Tanjung api-api tidak ada jalan rusak yang saya takuti lagi. Jalan rusak ini aku datang!

Bad roads

Jalan Rusak

Senang akhirnya bisa sampai di perbatasan Entikong, perbatasan yang akan membawa saya menuju ke Tebedu, Malaysia. Salah seorang polisi di perbatasan bersikeras saya tidak boleh melintas perbatasan dengan motor saya akan tetapi bea cukai memberikan ijin dan pihak jabatan pengangkutan jalan Malaysia juga memberikan ijin. Sejak saya memulai perjalan ini, setiapasaya berhenti di kantor polisi, selalu saya dapat perlakuan yang sangat baik tapi lain ceritanya dengan salah satu oknum polisi yang ada di perbatasan ini. Ketika saya berada diruangan untuk menjelaskan tujuan saya, sepanjang percakapan banyak orang yang datang menginterupsi perbincangan kami dan menyalami oknum polisi ini sambil memberikan uang. Saya rasa itu uang yang diberikan mereka setiap kali kendaraan  mereka melintasi perbatasan, saya merasa muak sekali dengan oknum polisi ini. Jadi ketika pihak bea cukai membantu dan pihak Malaysia juga memberikan ijin saya merasa senang sekali. Saya membutuhkan surat khusus dari pihak Malaysia dan saya bisa mengurus surat itu di Kuching. Akan tetapi dikarenakan itu hari Jumat dan saya sampai di perbatasan pukul tiga sore dan dari Tebedu ke Kuching memakan waktu sekitar dua jam, kantor sudah tutup ketika saya sampai disana.

Me at the border

Saya ketika diperbatasan

Hari senin saya mendatangi kantor pemerintah Malaysia di Kuching. Akan tetapi orang yang akan menandatangani dokumen saya sedang rapat dan tidak ada ditempat dan baru kembali ke kantor sekitar pukul dua siang. Tapi mereka menjanjikan saya tetap bisa menuju perbatasan dan mengambil motor saya dan mereka akan menge-fak semua perijinan saya. Dan saya pun kembali keperbatasan, di jalan menuju perbatasan saya melihat patung ini, lucu sekali.

Huge gorilla sitting in toilet statue

Patung Gorilla di pinggir jalan

Tiba di perbatasan Tebedu saya mengetahui bahwa mereka tidak bisa menerima fax dikarenakan kabel telepon mereka dicuri, didaerah ini rawan sekali pencurian kabel, bulan sebelumnya ada 11 kasus pencurian.tapi untungnya mereka bisa menerima email dan setelah mereka menerima email dari kantor pusat saya kembali ke perbatasan Indonesia untuk mengambil surat-surat. Dan diperbatasan Indonesia saya kembali bertemu dengan oknum polisi yang menjengkelkan kemarin. Tapi kali ini dia tidak bisa bilang apa-apa karena saya sudah mengantongi ijin lengkap. Pihak bea cukai membantu saya dengan senang hati dan saya pun kemudian membeli asuransi di perbatasan Malaysia dan akhirnya dikeluarkanlah International Circulation Permit untuk saya!

International Circulation Permit

International Circulation Permit

What do you think?