Kalimantan Part 2

Ketika saya mengajukan surat ijin mengemudi internasional Malaysia, saya kira dari kucing ke kota kinabalu itu tidak terlalu jauh. Saya bahkan tidak mengecek peta. Itulah kebodohan saya tapi namanya juga manusia tidak lepas dari kesalahan. Jadi saya mengajukan ijin mengemudi untuk dua minggu. Artinya saya hanya punya waktu dua minggu untuk berkendara dari Kuching ke kota kinabalu  yang kira-kira jaraknya sekitar 1131 km. Yang akhirnya saya sesali dikarenakan saya jadi terburu-buru dan menghabiskan banyak energi dan juga dikarenakan saya bertemu dengan banyak sekali orang-orang yang menyenangkan tapi tidak bisa tinggal lama dengan mereka.

Dari Sibu saya berkendara langsung ke Bintulu. Tidak dapat melanjutkan perjalanan karena sudah gelap ketika saya sampai di Bintulu, jadi saya berhenti di tempat pertama saya menemukan cahaya. Ternyata itu warung sayur milik orang Indonesia. Beruntungnya saya, Ibunya langsung menyambut saya dan menawarkan untuk tidur disana. Ibunya baik banget begitu juga anak laki-lakinya. Mereka berdua pecinta hewan dan kita bertiga tidur didalam warung beserta dengan Sembilan kucing mereka. Ini bukan pertama kalinya saya tinggal dengan pecinta kucing, ketika saya di Belitung saya pernah tinggal dengan ibu yang juga pecinta kucing.

The place i slept with nine cats

Tempat saya tidur beserta dengan sembilan kucing

Saya ambil foto ini keesokan harinya. Saya tidak menyadari bahawa sang Ibu ternyata memiliki rambut yang sangat panjang. Kata si Ibu dia baru saja memotong rambutnya sebelum saya tiba, jadi rambutnya sudah tidak sepanjang biasanya.

In front of the lady vegetable shop

Warung sayur tampak depan, dan Ibu rambut panjang 

Keesokan harinya, mereka tidak mengijinkan saya untuk pergi, akhirnya saya jelaskan tentang situasi ijin mengemudi internasional saya, akhirnya mereka pun mengerti. Saya sangat menyukai keluarga ini dan dengan berat hati akhirnya saya pun melanjutkan perjalanan ke Miri. Saya sampai di Miri sekitar pukul tiga siang dan saya putuskan untuk menginap di Miri dan melanjutkan ke Brunei keesokan harinya. Saya tidak berencana untuk bermalam di Brunei karena Brunei mahal dan selain itu orang yang akan menge-host saya dari couchsurfing belum membalas pesan saya.

Miri

Miri

Besok paginya saya pun langsung menuju perbatasan Brunei. Bapak-bapak polisi di perbatasan memberikan saya minuman dan beberapa roti untuk makan siang saya, lumayan penghematan. Baik sekali bapak-bapak polisi disini. Tidak banyak hal yang menarik di Brunei. Buat saya, Brunei tidak terlihat seperti Negara lebih terlihat seperti kota dengan lalulintas yang sangat cepat. Ketika saya di Jalan raya, saya melihat tiga atau mungkin lebih monyet mati. Saya tidak pernah melihat monyet mati tertabrak sebanyak itu dijalan raya, saya kaget sekali. Sayang sekali saya tidak bisa mengambil gambar karena saya kaget dan juga karena lalulintas cepat sekali. Tidak semua jalan raya di brunei ramai. Beberapa jalan raya ada juga yang sepi dan kita masih bisa melihat monyet berkeliaran dan ketika mereka tahu kita datang mereka berhamburan lari sangat cepat sekali.

Brunei #1

Brunei #1

Dikarenakan Brunei negara yang kecil, tidak dibutuhkan waktu yang lama buat berkendara dari perbatasan ke Ibukota Brunei yaitu Bandar Sri Begawan. Dan ternyata Ibukota Brunei pun tidak terlihat seperti kota metropolitan pada umumnya. Lagi-lagi terlihat hanya seperti kota kecil yang membuatnya megah adalah bangunan masjid yang sangat megah yang terletak di tengah kota.

Brunei #2

Brunei #2

The Mosque

Mesjid Brunei

Di Negara maju seperti Brunei tidak pernah terfikir oleh saya kalau ternyata disana pom minyak bisa kehabisan bensin juga, kirain cuma di Indonesia aja yang bisa habis minyak ternyata eh ternyata di Brunei juga lho.

Petrol Station

Pom Minyak yang habis

Saya di Bandar Seri Begawan sampai hari mulai senja, menunggu jawaban dari seorang couchsurfing yang mengatakan dia bisa menghost saya. Kita janjian disuatu tempat tetapi kendala yang saya hadapi adalah saya tidak mempunyai simcard Brunei, jadilah saya meminjam telpon beberapa orang untuk menelpon dia, akan tetapi tidak diangkat-angkat disms juga tidak dibalas, akhirnya saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke perbatasan Malaysia. Hal yang menarik di perbatasan antara Malaysia dan Brunei adalah setelah kita melewati Bandar Seri Begawan kita akan memasuki kawasan Limbang, Malaysia lalu setelah Limbang kita akan memasuki Brunei lagi lalu baru memasuki Malaysia lagi, jadi paspor saya di cap berkali-kali.

Alkohol tidak diperbolehkan di Brunei, jadi diperbatasan Brunei dan Malaysia kita dapat melihat banyak sekali restoran yang menjual alkohol dan orang-orang yang tinggal di Brunei dan ingin minum-minum harus berkendara keluar Brunei menuju perbatasan bagian Malaysia.

Ketika saya melewati perbatasan Brunei hari sudah mulai gelap, Saya pun tidur di Mesjid raya Limbang, Malaysia. Butuh waktu sangat lama untuk meyakinkan pengurus masjid kalau saya tidak apa-apa dan akan baik-baik saja tidur di luar masjid. Para pengurus masjid khawatir banyak yang mabuk yang mungkin akan menggangu atau memperkosa saya dikarenakan saya seorang perempuan dan belum pernah ada seorang perempuan yang tidur di masjid ini sebelumnya. Salah satu pengurus mengajukan dengan wajah tak percaya menanyakan lebih dari lima kali apakah saya seorang diri. Akhirnya setelah cukup lama mereka memperbolehkan saya tidur disana. Keesokan paginya saya melanjutkan perjalanan ke Kota Kinabalu. Di perjalanan knalpot saya patah dan mulai mengeluarkan bunyi yang sangat keras, sangat memalukan karena berasa kampungan. Beruntungnya saya menemukan bengkel tak jauh dari tempat knalpiot saya patah, namun dikarenakan masih sangat pagi dan bengkel belum buka, saya harus menunggu sampai bengkel buka dan para mekanik datang. Akhirnya pak mekanik memperbaiki knalpot saya.

Mechanic Shop #1

Bengkel #1

Mechanic Shop #2

Bengkel #2

Malam pertama di Kota Kinabalu saya menginap di sebuah hostel. Keesokan paginya ketika saya check out dari hotel saya menemukan gelang ini tergantung di motor saya. Ada tulisan “Ganbate”, Ganbate dalam bahasa jepang artinya lakukan yang terbaik. Saya tidak pernah tahu siapa yang menaruh gelang itu disana, tapi saya mulai memakai gelang itu sebagai gelang keberuntungan saya.

Charm Bracelet

Gelang keberuntungan

Keesokan harinya ada host dari couchsurfing yang bisa meng-host saya satu malam dan kita janjian untuk bertemu dimalam hari. Siang harinya saya ada interview dengan  ” The Borneo Post”. Saya janjian dengan host saya dari couchsurfing jam delapan malam akan tetapi saya datang kecepetan jadinya saya menunggu di sebuah pom minyak. Ketika menunggu di pom minyak, salah satu bikers dari Ranau melihat saya dan akhirnya kita ngobrol-ngobrol dan akhirnya makan malam bersama. Setelah itu kita pun bertukar nomer handphone dan saya pun pergi ke rumah host saya. Host saya seorang photographer dan mempunyai combi yang unik, saya senang sekali dia bisa nge-host saya di detik-detik terakhir.

The host, combi and my bike

Host, Combi dan Motor saya

Sebelum saya pergi keesokan harinya saya memotret motor saya, host dan combinya. Lalu saya pun langsung pergi ke kantor polisi setempat untuk meminta mereka mengisi buku perjalanan saya. Dikantor polisi, para polisi disana menyarankan saya untuk datang ke konsulat Indonesia yang ada di Kota Kinabalu, saya tidak tahu ternyata ada Konsulat Indonesia di Kota Kinabalu. Saya pun menuju ke Konsulat Indonesia untuk lapor diri, sesampainya di konsulat saya pun disambut baik oleh para bapak-bapak dan ibu-ibu disana, mereka pada ramah-ramah sekali. Mereka bahkan menawarkan saya untuk tinggal di shelter konsulat dan mereka juga menyarankan jika saya tidak ada tempat tinggal di Tawau juga bisa menginap di shelter konsulat Tawau. Akan tetapi saya tidak bisa tinggal lama di Kota Kinabalu karena ijin sim internasional Malaysia saya hampir habis dan saya telah tinggal di Kota Kinabalu selama dua hari jadi saya tidak bisa tinggal lebih lama lagi. Sedih sebenarnya karena saya sangat suka Kota Kinabalu. Dan di hari yang sama saya juga muncul di ” The Borneo Post” bertepatan dengan hari ulang tahun saya, hadiah ulang tahun yang istimewa.

At Indonesian Consulate in Kota Kinabalu

Di depan konsulat Indonesia di Kota Kinabalu

Dengan berat hati saya meninggalkan Kota Kinabalu dan melanjutkan perjalanan ke Ranau. Saat itu musim hujan jadi cuaca berubah cepat sekali. Sepanjang perjalanan ke Ranau pemandangannya sangat indah.  Jika saja tidak berkabut akan lebih indah lagi.

The View #!

Jalan Menuju Ranau #1

The View #2

Jalan menuju Ranau #2

Saya harus berhenti beberapa kali karena saya tidak dapat melihat jalanan karena kabut yang sangat tebal dan saya juga khawatir truk-truk besar juga tidak dapat melihat saya.

The View #3

Jalan menuju Ranau #3

The Road #2

Jalan menuju Ranau #4

Ketika akhirnya saya tiba di Ranau, saya sudah ditunggu-tunggu oleh para bikers dari ranau, senang akhirnya bisa bertemu dengan mereka.

With Bikers From Ranau

Ranau Bikers Club 

Knalpot saya bocor lagi, dan para bikers menyuruh saya untuk menunggu di kafe dan salah seorang biker mencoba mengendarai motor saya tetapi dikarenakan cara mengendarai motor saya berbeda, tidak ada yang bisa mengendarainya dan akhirnya sayalah yang pergi ke bengkel bersama dengan salah seorang biker untuk memperbaiki knalpot saya.

One of the bikers

Salah satu biker mencoba mengendarai motor saya

Setelah memperbaiki knalpot saya, saya ke hotel yang telah mereka boking buat saya. Para bikers disini baik sekali dan mereka membuat saya betah di Ranau, Terima kasih Bikers Ranau atas keramahtamahannya!

Me with the Tshirt from the bikers club

Hadiah T-shirt dari Ranau Bikers Club 

Dari Ranau saya pun beranjak menuju Sandakan kemudian ke Tawau. Ada yang mau host saya di Tawau tapi lagi-lagi menghilang tanpa jejak. Sangat mengesalkan ketika orang hilang  tanpa ada kabar, kalau tidak bisa ngehost ya mbok bilang secara langsung. Tapi saya akhirnya menyadari tidak semua hal berlangsung seperti yang kita rencanakan.

Akhirnya saya pun menuju ke Konsulat Indonesia di Tawau. Dari Tawau tidak ada perbatasan darat, Jadi untuk menuju Indonesia saya harus menyebrang kesalah satu pulau di Indonesia, dan saya memilih Tarakan dikarenakan dari Tarakan akan memudahkan akses saya menuju Tanjung selor nantinya. Kapal feri dari Tawau ke Tarakan tidak setiap hari, Saya sampai di Tawau hari Sabtu dan baru ada kapal ke Tarakan di hari Selasa. Konsulat Indonesia biasanya tutup di hari sabtu, namun saya beruntung karena ketika saya sampai di konsulat, konsulat sedang ramai karena mereka akan ada tamu. Jadinya saya langsung diperbolehkan untuk bermalam di konsulat, berada di konsulat Indonesia serasa berada dirumah sendiri dan berasa tamu kehormatan, sangat menyenangkan sekali.

Shelter at Indonesian Consulate in Tawau

Shelter di Konsulat Indonesia Tawau

Ketika saya Di Tawau saya berkunjung ke salah satu learning center disana. Learning center ini untuk anak-anak yang tidak bisa pergi ke sekolah Malaysia dikarenakan mereka lahir di Malaysia tapi dari orangtua yang bukan orang Malaysia. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dari orang Indonesia atau Filipina yang bekerja di Malaysia untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Anak-anak di learning center sangat antusias melihat kedatangan saya dan mereka terheran-heran mendengar cerita tentang perjalanan saya. Sangat menyenangkan bisa berbagi cerita dengan mereka semoga saya bisa menginspirasi mereka untuk menggapai mimpi-mimpi mereka.

The children at Learning Center in Tawau

Anak-anak di Learning Center

Me with The Children

Saya dengan Anak-anak di learning center

Saya berharap punya waktu lebih banyak sehingga saya dapat mengunjungi banyak learning center di Tawau, tapi apa daya ijin mengemudi international saya hampir habis dan saya harus meninggalkan Malaysia. Saya sedih meninggalkan Tawau, karena banyak sekali mendapatkan teman baru disana, ketika saya akan berangkat teman-teman dari konsulat Indonesia memberikan donasi kepada saya untuk membantu perjalanan saya selanjutnya. Saya tidak mengharapkan apa-apa ketika saya disana, sudah sangat senang sekali bisa diperbolehkan tinggal di konsulat Indonesia dan mengunjungi learning center. Di konsulat Indonesia saya menyadari bahwa kita tidak sendiri bahkan ketika kita jauh dari rumah. Senang sekali rasanya mengetahui bahwa ada orang-orang yang masih peduli dengan anak-anak ini dan mereka masih bisa bersekolah. Konsulat Indonesia di Tawau harus nya punya slogan baru “ Rumah ketika jauh dari rumah” karena waktu saya disana berasa ada di rumah sendiri.

With the consulate general and the crews

Perpisahan dengan teman-teman di Konsulat dan Pak Konsulat jendral

Me in front of Indonesian Consulate in Tawau

Di depan Konsulat Indonesia di Tawau

 

 

 

What do you think?