Kalimantan Part 3

Dari Tarakan, saya masih harus menyebrang dengan kalap kayu untuke menuju Tanjung Selor, tempat dimana saya akan bisa mulai menjelajahi Kalimantan lewat darat, dan lagi-lagi saya harus menunggu dua hari sebelum ada jadwal kapal ke Tanjung Selor.

Di Tarakan, saya mengunjungi Sekolah Luar Biasa. Ketika saya datang beberapa anak sedang mempersiapkan diri untuk Borneo Soccer Cup Special Olympics. Guru mereka bilang anak-anak yang mengikuti olympik ini sangat jago main bola dan mereka juga sudah bermain sampai ke luar negeri. Hebat ya mereka!. Keterbatasan fisik bukan halangan yang sebenarnya, halangan sebenarnya adalah halangan mental.

Me with The Children

Saya berfoto dengan anak-anak dari Sekolah Luar Biasa

Saya senang sekali bermain dengan anak-anak ini, mereka pintar-pintar dan lucu-lucu, menggemaskan. Tapi apa daya kapal yang akan membawa saya ke tanjung selor telah datang dan saya pun harus pergi. Saya bermalam satu malam di pelabuhan dan besoknya langsung menuju ke Tanjung selor. Ketika saya di dalam kapal saya mengalami panik sesaat, karena saya merasa kapal kelebihan muatan. Tidak banyak penumpang di dalam kapal kayu ini dikarenakan ini lebih ke kapal barang, tapi kapalnya penuh sekali.

The Boat #1

Kapal Kayu yang akan membawa saya menuju Tanjung Selor 

The Boat #2

Penampakan di dalam Kapal

The Boat #3

Motor saya sedang di muat di atas kapal

Sudah gelap ketika akhirnya saya sampai di Tanjung Selor dengan selamat. Seperti biasanya saya langsung menuju kantor polisi, untuk meminta mereka mengisi buku perjalanan saya. Ketika di Kantor polisi salah satu polisi mengundang saya untuk menginap di rumahnya, senangnya langsung dapat tempat menginap. Pak polisi agak sedikit khawatir dengan saya dikarenakan nantinya jalan menuju Sangata akan jelek sekali, masih dalam tahap di perbaiki dan sepanjang kurang lebih 150km itu hutan terus tidak ada rumah penduduk.

The Road

Perbaikan Jalan

544_Together_h

Jalan jelek, licin dan lubang dimana-mana

Keesokan paginya saya pun berpamitan dan kembali meneruskan perjalanan. Dan persis seperti yang diceritakan pak polisi jalan nya sangat jelek, pagi itu hujan pula, jadilah saya dan motor saya berjuang mati-matian melewati jalanan tersebut.

Dalam perjalanan saya, banyak sekali orang bertanya kepada saya “Apa ga takut kalau pas lewat hutan?” Jawaban saya “tidak, saya ga pernah takut”. Saya justru senang sekali kalo pas ngelewatin hutan,menyenangkan sekali bisa mendengarkan suara burung atau serangga nyanyi dan bisa ikutan nyanyi teriak-teriak bersama mereka  dan ga ada yang marah, berharap banget bisa lihat gajah lewat, tapi sayang sekali belum pernah lihat gajah lewat. Berkendara berkilo-kilo dan ga ada satupun mobil lewat atau motor atau orang, cuma saya sendiri paling setiap setengah jam ada satu truk lewat. Menyenangkanlah pokoknya kalau pas lagi lewat hutan soalnya hobi bernyanyi dengan suara pas-pasan banget bisa tersalurkan. Tapi saya harus tetap berhati-hati karena jalanan ini sangat licin dan banyak pohon tumbang.

The View #1

Pohon Tumbang

The View #!

Jalan rada bagus tapi licin

Saya berhenti di warung pertama yang saya temukan di tengah hutan, dan saya numpang bermalam disana karena saya rasa terlalu berbahaya jika tetap jalan di malam hari.

Besok paginya, empat jam sebelum Sangata motor saya menyerah. Tempat baut roda tambahan saya yang terletak di rumah mesin patah, hilang keseimbangan dan saya hampir masuk jurang karenanya. Beruntungnya tak jauh dari tempat patah ada sebuah warung tempat bapak para supir truk nongkrong, mereka semualah yang langsung menolong saya. Awalnya saya pikir motor saya masih bisa diakalin, tapi para bapak-bapak supir truk meyakinkan saya kalau masih hutan terus dan jalannya jelek sekali dan kalau saya kenapa-napa nanti susah cari pertolongan dan tidak ada bengkel didekat sana. Dan mereka bilang kita naikkan saja ke truk sampai ketemu bengkel di Sangata, jadi sekitar kurang lebih 95km sebelum Sangata motor saya diangkat kedalam truk dan saya bersama motor saya ke Sangata naik truk.

m

Bapak supir ketika mau mengangkat motor saya ke dalam truk

 

544_20141109_144809

Motor saya di dalam truk

544_20141109_151636

Jalan menuju Sangata di foto dari dalam truk

Sesampainya di Sangata, saya di turunkan di bengkel oleh si Bapak. Tapi sayangnya bengkelnya pun tidak bisa memperbaikinya karena yang patah itu besi cor jadi tidak bisa di las di tempat biasa dan lagian kalau mau di las pun harus turun mesin jadilah motor saya cuma diakalin biar bisa jalan saja. Hari sudah malam ketika saya sampai di Sangata, saya pun menghubungi teman dari couchsurfing yang sebelumnya sudah berkirim pesan dan saya pun sudah memberitahukan kedatangan saya hanya belum tahu kapannya, Namanya Desi, saya sms desi dan bilang saya sudah di Sangata, desi pun datang menjemput saya dengan seorang temannya bernama Ibnu. Ketika bertemu berasa seperti sudah kenal lama, kita bertiga langsung akrab, Kita pun langsung menuju rumah Desi, disana keluarga Desi sudah menunggu. Saya disambut hangat oleh keluarga Desi dan kita pun langsung makan malam bersama. Di Sangata saya menginap dirumah Desi dua hari.

Keesokan harinya, Saya, Desi dan Ibnu jalan-jalan keliling Sangata, karena tidak mungkin membawa motor saya jadinya saya di bonceng Desi dan Ibnu naik motor sendiri, Kita bertiga semangat sekali pergi ke pasar barang bekas dan akhirnya duduk manis menikmati sore di alun-alun kota.

Sedih berpisah dengan Ibnu, Desi dan keluarganya tapi saya harus terus lanjut ke Bontang untuk memperbaiki motor saya. Bontang lebih besar dari Sangata dan ada bengkel resmi yang lebih besar untuk motor saya. Sampai di Bontang saya langsung ke bengkel resmi, dan ternyata mereka punya rumah mesin yang baru dan saya pikir biaya las dan rumah mesin baru hampir sama saja jadinya saya putuskan untuk menggantinya saja. Mereka bilang tidak bisa ditunggu karena harus turun mesin dan dibutuhkan setidaknya dua sampai tiga hari baru selesai, setelah saya tanyakan estimasi harga dan saya rasa sesuai akhirnya saya percayakan motor saya disana.

Di Bontang lagi-lagi saya punya teman dari couchsurfing, dan saya di tempatkan di villa tengah laut, rumah ini kepunyaan kepala dinas kesehatan terdahulu namun sudah lama kosong. Tempatnya cantik sekali, namun kendalanya tidak ada listrik dan airnya pun bergantung dari air hujan, untungnya lagi musim hujan ketika saya disana. Disana tersedia generator tapi hanya kita nyalakan dimalam hari saja. Di sinilah saya bertemu dengan anak-anak muda Bontang yang sangat peduli dengan lingkungan, menyenangkan sekali bisa bertemu dengan orang-orang ini. Jika kalian ingin ke Bontang mungkin bisa mengontak saya jika ingin dikenalkan dengan mereka para pemuda dan pemudi luar biasa ini. Ketemu mereka bikin pengalaman di Bontang jadi luar biasa.

544_20141112_175526

Sunset di jeti tempat saya memarkirkan motor saya

544_20141112_175534

Ini dia rumah tempat saya tinggal di Bontang

Menghabiskan waktu dengan mereka-mereka ini membuat saya terlena dan lupa dengan motor saya. Itu kesalahan terbesar saya, karena ketika bengkel menelpon saya mengatakan motor saya sudah selesai, saya langsung menjemput motor saya dan langsung mencobanya. Saya langsung merasa motor saya seperti tidak ada tenaganya dan ada yang bunyi, orang bengkel bilang itu knalpotnya masih bocor. Dari bengkel saya langsung ke tukang knalpot buat las knalpot karena jaraknya dekat dengan bengkel, setelah itu saya kembali lagi ke bengkel karena merasa motor saya ada yang salah tapi saya tidak tahu apa. Kata orang bengkelnya itu cuma bunyi knalpotnya saja dan yang lain baik-baik saja. Ketika saya bayar saya juga kaget dengan tagihan yang tidak sesuai dengan estimasi awal yang katanya tidak akan lebih dari enam ratus ribu dan ada penggantian spareparts tanpa sepengetahuan saya, tapi saya masih berfikir positif akhirnya saya bayar saja. Pulang lah saya ke tempat saya menginap, karena saya menginap ditengah laut, motor saya parkir di tempat parkiran motor, saya menginap dua hari lagi di Bontang sebelum akhirnya menuju Samarinda.

Ketika tiba harinya saya meninggalkan Bontang, disinilah masalah bermulai. Motor saya tidak bisa mendaki bahkan tanjakan yang tidak tinggi pun tidak kuat mendaki, terpaksalah saya dorong motor, dan mungkin dikarenakan saya perempuan banyak orang yang membantu saya dan lagi-lagi saya beruntung ada satu bapak-bapak yang akhirnya menanyakan saya mau kemana dan ternyata kami satu tujuan, dan dia mau konvoi dengan saya, dan setiap tanjakan dia membantu mendorong motor saya dengan kakinya.

Sampai di Samarinda hari sudah malam dan saya menginap di teman dari couchsurfing. Keesokan paginya saya langsung ke bengkel resmi motor saya. Dan dari sanalah saya tahu ternyata piston karburator saya bekas di lem dan tidak bisa bergerak jadinya bocor makanya motor saya jadi tidak ada tenaganya.  Saya marah sekali, karena saya kira kalau bengkel resmi pelayanannya lebih baik ternyata tidak, sejak itu saya trauma sekali dan tidak mau ke bengkel resmi atau kalaupun terpaksa ke bengkel saya duduk mantengin mekaniknya sampai selesai. Saya rasa kemarahan saya sangat berdasar karena perjalanan saya masih jauh, sering kali orang tidak menyadari bahwa keteledoran sekecil apapun itu akan menyusahkan orang lain bahkan bisa mencelakakan orang lain. Sampai sekarang kalau ingat kejadian itu kesalnya setengah mati.

544_20141117_102849

Piston karburator saya yang di lem

Saya akui susah sekali menaklukkan Kalimantan, jalanan rusak parah, motor rusak berkali-kali, kaki hampir patah karena terjatuh dari motor dan banyak lagi. Ketika di Kalimantan saya frustrasi sekali karena motor saya yang awalnya tidak rusak dan hanya patah rumah mesin jadi harus masuk bengkel berkali-kali karena kesalahan yang di lakukan mekanik yang tidak bertanggung jawab, dan mekanik yang seharusnya memperbaiki motor saya bukannya bikin tambah bener malah tambah rusak.

Saya juga kecewa dengan Kalimantan, karena sebelum ke Kalimantan saya pikir di Kalimantan itu hutan alamnya masih banyak…ternyata eh ternyata..banyak sekali hutan yang sudah di konversi menjadi hutan kelapa sawit dan banyak sekali tambang batu bara disini. Sangat mengecewakan sekali. Bahkan di area yang katanya hutan konservasi saya banyak sekali melihat pembakaran untuk membuka lahan baru.

544_20141119_170211

Penebangan hutan di daerah konservasi

544_20141118_154404

Pembakaran Hutan masih di Kawasan konservasi

544_20141118_105615

Tambang Batu bara

Ketika saya di Banjarmasin, saya juga melihat perdagangan hewan yang dilindungi, awalnya saya tidak tahu itu lutung perak, lewat seorang teman saya mengetahui bahwa itu adalah lutung perak hewan yang hampir punah. Saya laporkan ke lembaga perlindungan hewan tapi saya tidak tahu bagaimana kelanjutannya. Sedih sekali bila melihat hewan liar yang seharusnya hidup di hutan diperjualbelikan, mereka masih bayi harus terpisah dari induknya. Semoga warga Indonesia nantinya bisa lebih sadar tentang pentingnya membiarkan hewan liar untuk tetap hidup di lingkungannya dan kita bersama bisa ikut menjaga kelestariannya supaya anak cucu kita nantinya masih bisa melihat mereka tidak hanya fosil atau foto nya saja.

544_20141122_153844

Penjual hewan liar di Banjarmasin

Tidak semua hal jelek tentang Kalimantan. Saya bertemu banyak sekali orang-orang baik yang membuat saya tetap melanjutkan perjalanan saya. Di Kalimantan saya menginap di rumah temannya seorang teman, keluarga mereka baik sekali. Kami pergi jalan-jalan bersama, ke pasar terapung di Muara Kuin terus ke Martapura. Kalau mau mengunjungi Pasar Terapung harus bangun pagi-pagi sekali, karena pasarnya di mulai dari jam lima subuh sampai jam delapan pagi. Pasar ini menarik sekali, para penjual tidak terganggu dengan para turis yang datang dan di pinggir pasar kita juga bisa melihat orang mandi, mencuci dan BAB. Di Kalimantan sungai masih merupakan pusat kehidupan bai orang-orang, mereka sudah terbiasa untuk mandi, mencuci dan BAB di sungai, walupun banyak spanduk yang menyarankan mereka untuk menggunakan toilet dan kamar mandi tetap saja masyarakat masih melakukan segala aktifitas disungai. Yang bukan orang Kalimantan dan tidak terbiasa dengan kehidupan seperti itu pastinya jijik,tapi tidak ada yang bisa saya lakukan. Kebayang berapa tingginya tingkat pencemaran sungai di Kalimantan mungkin hampir sama dengan di Jakarta ya?

544_20141123_055002

Saya bersama keluarga tempat saya menginap di pasar terapung Muara Kuin

544_20141123_055354

Pasar Terapung, di gambar sebelah kiri atas bisa dilihat ada orang sedang mencuci

Kalimantan besar sekali, saya menghabiskan waktu lebih dari satu bulan untuk mengelilingi Kalimantan. Saya bertemu banyak sekali orang baik,ramah dan banyak sekali membantu sepanjang perjalanan saya. Kalau saya berfikir tentang Kalimantan, perasaannya campur aduk. Mulai dari marah, kesal, sedih, kecewa, frustrasi dan senang dll, tapi saya lega pada akhirnya saya bisa menyelesaikan perjalanan panjang saya di Kalimantan.

 

What do you think?