Sulawesi (Celebes) Part 2

Setelah istirahat cukup lama, akhirnya saya kembali ke Palopo dan meneruskan perjalanan saya ke Toraja “ Tanahnya para raja-raja”. Sepanjang perjalanan kamu bisa melihat “Tongkonan”, Tongkonan adalah rumah keluarga yang biasanya tidak ditempati oleh mereka. Orang Toraja menggunakan Tongkonan untuk menyimpan mayat yang telah di balsami sampai keluarga mampu untuk menabung untuk biaya pemakaman, Pemakaman disini sangat mahal dan bisa bertahun-tahun menabung. Dimasa mereka menabung mereka percaya bahwa mayat itu masih hidup tapi sakit dan mereka masih memberi mereka makan dan mengganti pakaiannya setiap hari.

544_Together_f

Tanah toraja 

Kete kesu village

Kampung Kete kesu 

Symbol of social class

Simbol dari status sosial,semakin banyak tanduk kerbau semakin tinggi status sosialnya

544_Together1_f

Tongkonan

Burial site

Pemakaman

Dari Toraja saya terus ke Polewali, hari sudah gelap ketika saya sampai di Polewali. Saya pun berhenti di kantor polisi terdekat untuk meminta mereka mengisi buku perjalanan saya dan menanyakan apakah saya boleh bermalam disana. Di kantor polisi ini terdapat klinik kecil dan ada perawat yang jaga malam, jadi bapak polisi menitipkan saya diklinik tersebut dan saya pun bermalam disana dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Polewali

Polewali

Saya menuju Mamuju keesokan harinya ditemani hujan sepanjang pagi. Di perjalanan menuju Mamuju saya melihat anak-anak bermain lumpur, kenapa anak-anak selalu senang bermain air dan lumpur? Anak-anak sungguh menggemaskan.

Let the children play! #1

Mari main air! #1

Let the children play! #2

Mari main air! #2

Let the children play! #3

Mari main air! #3

Tidak banyak yang bisa saya katakan tentang Mamuju, Berdebu dan salah satu tempat di Sulawesi dimana kamu bisa melihat kebun kelapa sawit, Mungkin tidak sebanyak seperti di Sumatera ataupun Kalimantan tapi tetap membuat saya sedih melihat pulau yang sangat cantik berubah menjadi kebun kelapa sawit, walaupun hanya sebagian kecil saja. Saya mengobrol dengan penduduk lokal, beberapa orang mengatakan kebun kelapa sawit membantu perekonomian warga sekitar, dikarenakan biasanya perusahaan memperkerjakan penduduk setempat.Dilema.

The view #1

The View #1

The view #2

The view #2

The view #3

The view #3

Keesokan harinya saya melanjutkan perjalanan menuju Palu, Saya merasa senang sekali di Sulawesi dan merasaan ini bagian termudah dari perjalanan saya.

Sulawesi tengah, khususnya, Poso dan Palu diketahui sebagai tempat dimana teroris beroperasi, Grup Santoso merupakan salah satu kelompok teroris yang sangat dicari di Indonesia. Kelompok ini sering menyebarkan terror dan mengakibatkan konflik di daerah tersebut dana ada juga indikasi bahwa mereka merupakan salah satu jaringan dari kelompok IS (Islamic state) di Indonesia. Beberapa hari sebelum saya tiba di Sulawesi tengah ada satu orang warga lokal yang ditembak mati oleh kelompok ini dan di dua tahun belakangan ini sudah empat warga sipil yang mati dan ada beberapa yang masih belum ditemukan. Setiap polisi di wilayay ini merupakan target para teroris dan sudah banyak polisi yang mati terbunuh. Hampir semua orang yang saya jumpai menyarankan saya untuk tidak melewati Poso karena terlalu berbahaya, akhirnya saya mengambil rute melalui Palu. Ketika saya sampai di Palu seperti biasanya saya berhenti di kantor polisi untuk meminta mereka mengisi cuku perjalanan saya dan di kantor polisi, para polisi sedang sibuk membicarakan tentang peristiwa pembunuhan warga lokal di Poso. Tidak seperti biasanya, ketika saya sampai bapak polisis memeriksa seluruh identitas saya. Saya melanjutkan perjalanan saya dan berhenti di sebuah pos polisi dikarenakan hari sudah gelap, pos polisi ini sebuah pos polisi kecil dan lagi-lagi saya ditanya macam-macam dan disuruh memperlihatkan seluruh identitas saya. Saya tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya, Penjagaan disini sangat lebih ketat dan polisi sangat waspada. Biasanya Kalau saya berhenti di pos polisi suasana disana lebih relax dan mereka biasanya tidak selalu membawa senjata laras panjang kemana-mana akan tetapi di wilayah ini sungguh berbeda. Saya sangat penasaran dan keesokan harinya saya bertanya pada bapak polisi di penjagaan dan akhirnya mengerti tentang situasi keamanan disana.Kelompok teroris membayar mahal siapa yang bisa membunuh polisi, bapak polisi juga menunjukkan kepada saya foto-foto dari warga lokal yang tembak mati beberapa hari sebelumnya. Setelah berbincang panjang lebar dengan bapak polisi saya melanjutkan perjalanan saya. Jalanan masih berkabut dan kali ini saya beruntung  ini benar-benar kabut bukan kabut asap.

Palu town center

Pusat kota Palu 

The policeman

Bapak Polisi 

Ini adalah foto-foto sepanjang perjalanan saya menuju Gorontalo, Pemandangannya menakjubkan.

The view #3

The view #1

The view #2

The view #2

The view #3

The view #3

Pemberhentian pertama saya di provinsi Gorontalo adalah di Kampung Bajo di Torosiaje dan Papayato. Suku Bajo hidup berkelompok dan selalu hidup disekitar laut, beberapa suku Bajo bahkan hidup di perahu mereka dinamakan “ Bangau”. Saya menuju Torosiaje dengan menggunakan perahu, penduduk sekitar membawa kesana dan itu gratis, harga normal menuju Torosiaje dengan menggunakan ojeg perahu adalah 5000/orang persekali jalan, akan tetapi jika ingin berputar-putar harganya bisa berbeda, tergantung kesepakan dengan pemilik perahu. Penduduk lokal disini sangat baik dan tidak akan menjebak kalian. Saya terpukau dengan bagaimana suku bajo hidup di laut, ditengah lautan mereka punya semua fasilitas yang mereka butuhkan seperti sekolah, warung-warung kecil, listrik dll. Dan jika ingin merasakan bagaimana kehidupan suku Bajo disana juga terdapat penginapan murah dengan dilengkapi toilet duduk. Saya tidak bermalam disini jadi tidak bisa menggambarkan secara pasti fasilitas yang ada di penginapan.

bajo’s village #1

Kampung bajo #1

bajo’s village #2

Kampung Bajo #2

bajo’s village #3

Kampung Bajo #3

Di Gorontalolah pertama kalinya saya menggunakan tenda saya. Saya semangat sekali ketika menemukan tempat yang sangat indah untuk emping. Awalnya cuaca mendukung akan tetapi ditengah malam hujan pun mulai turun sangat deras dan tenda saya pun bocor, saya beruntung ada ibubaik di warung sebelah yang mendatangi saya dan menawarkan untuk tidur ditempatnya. Sangat kecewa ketika kemping saya harus berakhir dikarenakan seumur hidup saya itulah pertama kalinya saya kemping.

Camping

Kemping

Keesokan paginya saya mengambil rute berbeda menuju manado. Saya melalui Kotamobagu lalu ke Tondano. Di sepanjang perjalanan banyak sekali orang-orang yang menjemur cengkeh di jalan raya. Hampir rata-rata orang di Sulawesi merupakan petani cengkeh dan ketika saya disana mereka sedang panen cengkeh jadilah saya mencium bau cengkeh sepanjang perjalanan.

Cloves

Cengkeh

Sampai di Sulawesi utara saya kelaparan, saya pun berhenti di salah satu warung makan Minahasa. Apa yang saya temukan disana mengejutkan. Rumah makan ini, rumah makan prasmanan. Saya pun bertanya ke ibu yang punya rumahmakan, ada apa aja ,bu? Ibu menjawab “ Babi..tikus..babi” saya masih tak percaya pendengaran saya “ yang ini apa tadi, bu? (sambil menunjuk yang kedua disebutkan ibu tadi:” sang ibu menjawab “ Tikus”. Selera makan langsung hilang dan bilang terimakasih ke ibu sambil beranjak pergi. Saya tidak pernah tahu kalau ternyata orang Minahasa makan tikus!!. Di perjalanan saya banyak mengobrol dengan penduduk lokal, dan dari mereka saya tahu kalau orang Minahasa makan apapun yang bergerak, penduduk lokal menginformasikan kepada saya tentang pasar yang menjual segala macam binatang untuk dimakan. Saya pun menuju pasar ini dan penjual mengatakan kepada saya, saya harusnya dating lagi di hari sabtu karena kalau hari sabtu bisa melihat hampir semua binatang. Pasar ini letaknya di daerah Tomohon namanya pasar beriman.

Extreme market #1

Extrem market #1

Extreme market #2

Extrem market #2

Dari pasar ekstrem saya langsung menuju Manado, saya tidak suka Manado karena sangat macet, tidak semacet Jakarta tapi cukup macet hingga membuat saya ingin cepat-cepat keluar dari Manado. Saya pun langsung menuju Bitung, Bitung kota yang menyenangkan saya lebih suka Bitung dibandingkan dengan Manado. Bitung merupakan akhir dari Sulawesi dan dari sinilah saya akan menuju Ternate dengan kapal laut. Sulawesi tidak pernah berhenti membuat saya terkagum-kagum, mulai dari beragam kebudayaannya dan pemandangannya yang sangat indah, saya berharap bisa kembali lagi suatu hari nanti.

Bitung

Bitung

 

 

 

What do you think?