Papua Bagian 1

Saya selalu ingin pergi ke Papua sejak saya berada di SMA ( Sekolah Menengah Atas). Ketika kapal yang membawa saya sampai di Weda, Maluku Utara saya sangat gembira. Ternyata kapal yang akan membawa saya ke menuju Papua tidak saja di penuhi dengan para penumpang tetapi juga berbagai binatang. Ada lebih dari dua puluh sapi, kambing, udang lobster, burung, ayam dan banyak lagi. Saya memilih untuk duduk disamping sapi  karena saya tidak tahan dengan bau kambing. Dari Weda ke Sorong perjalanan memakan waktu dua malam dikarenakan kapal harus berhenti di pulau-pulau kecil, dan selama dua malam saya tidur bersama sapi

544_Together2_j

Para Binatang di Dalam Kapal

544_20150131_143918

Saya bersama para binatang

Setiap kali kapal berhenti di suatu pulau dan ada penumpang yang naik ke kapal mereka selalu menutup hidung di karenakan bau yang tidak sedap dari kotoran para binatang. Banyak orang yang terkejut saya bisa tidur disebelah sapi dan merasa nyaman. Saya rasa hidung saya sudah terbiasa dengan bau – bau disekitar saya jadi bau-bau tersebut tidak menggangu saya lagi. Saya merasa kapal ini tidak seburuk dengan “bus ayam” yang pernah saya tumpangi ketika saya di SMA ( Sekolah Menengah Atas). Ketika itu libur panjang dan saat itu tiket pesawat mahal sekali, dan kebanyakan tiket bus sudah terjual habis. Akhirnya saya nekat membeli tiket bus ekonomi tanpa tahu seperti apa bus itu dan jadilah selama perjalanan saya dari Bandung ke Pekanbaru saya bersama ayam, kelinci dan sebagainya dan bau sekali. Bus itu juga lama sekali orang tua saya hampir melaporkan kehilangan saya dikarenakan tidak ada kabar berita dari saya selama empat hari. Pengalaman ini jika diingat-ingat sangat lucu dan berkesan sekali. Saya merasa kasihan dengan binatang di dalam kapal dan khawatir kalau mereka stress selama diperjalanan akan tetapi tidak banyak yang bisa saya lakukan tentang itu.

544_20150201_165745

Para sapi setelah hampir dua hari di dalam kapal

544_20150130_204937

Suasana di dalam kapal

Salah satu pemberhetian yang sangat menarik adalah ketika kapal saya berhenti di Pulau Gebe. Kapal berhenti sekitar delapan jam, jadi saya memutuskan untuk jalan-jalan disekitar pulau. Salah satu pemuda lokal mengikuti saya ketika saya keluar kapal dan akhirnya membawa saya ke rumahnya, mengenalkannya dengan teman-temannya.dan membawa saya berkeliling pulau dan menceritakan sejarah Pulau Gebe. Dari mereka saya mengetahui bahwa Pulau Gebe dulunya merupakan tempat penambangan PT. Antam tetapi sekarang sudah sekitar sepuluh tahunan lebih berhenti dan sekarang pemerintah berencana membuat tempat peleburan nikel di pulau itu. Dan ternyata dari Pulau Gebe ini, Wayag yang merupakan ikon dari Raja Ampat dapat ditempuh lebih dekat dengan menggunakan kapal di bandingkan dari Waisai. Akan tetapi sayangnya Pulau Gebe berada di daerah teritori Maluku Utara dan Wayag merupakan wilayah teritori Papua dan sejak lautan di Papua merupakan daerah konservasi untuk memasukinya butuh ijin dan dikarenakan kapal saya hanya berhenti selama 8 jam kami tidak punya cukup waktu untuk pergi kesana. Dari Pulau Gebe hanya dibutuhkan sekitar lima puluh liter solar sedangkan dari Waisai dibutuhkan sekitar empat ratus liter solar oleh karena itu perjalanan ke Raja Ampat terkenal mahal sekali.

Pulau Gebe sangat cantik sekali. Di pulau Gebe terdapat banyak potensi wisata, Pantai dengan pasir putih yang membentang, sungguh cantik sekali. Sayangnya dikarenakan infrastruktur yang tidak memadai akses untuk menuju ke pantai-pantai ini masih sulit sekali. Jalan-jalan yang berlobang dan sudah tidak pernah dibetulkan selama bertahun-tahun, sayang sekali. Saya sangat bersyukur dapat berkenalan dengan pemuda-pemuda ini. Mereka punya tekad untuk membangun pulau mereka, mereka bercerita tentang mimpi-mimpi mereka, semoga mereka dapat mewujudkan mimpi-mimpi mereka.

544_20150131_213138

Pemuda sekitar yang memandu saya selama di Pulau Gebe

544_20150131_171317

Pantai di Pulau Gebe #1

544_20150131_170803

Pantai di Pulau Gebe #2

Setelah saya sampai di Sorong saya mengetahui ternyata kapal yang membawa saya dari Weda menuju Sorong juga akan singgah di Waisai, Raja Ampat. Setelah bermalam satu malam di Sorong keesokan harinya saya ikut kapal yang sama menuju Waisai. Ketika sampai di Sorong saya masih tidak percaya bahwa saya akhirnya sampai di tanah Papua. Tempat yang saya impi-impikan sejak saya duduk di SMA ( Sekolah Menengah Atas). Di kepala saya sudah terbayang suku-suku asli Papua yang pernah saya baca di buku dan saya bersemangat sekali untuk bertemu mereka dan melihat keseharian mereka. Ketika turun dari kapal saya mulai melihat disekitar saya banyak orang yang terlihat berbeda dari penduduk Indonesia pada umumnya. Saya juga memperhatikan bahwa kebanyakan dari mereka mengunyah sirih dan meludah sembarangan, awalnya saya jijik sekali karena tidak terbiasa dengan orang meludah sembarangan tapi saya tidak boleh menunjukan rasa jijik saya karena takut mereka tersinggung. Walaupun terlihat berbeda dengan penduduk Indonesia pada umumnya orang Papua ramah sekali, setiap bertemu mereka selalu tersenyum. Saya terus berkendara berharap dapat melihat lebih suku asli Papua tetapi sesampainya di kota saya kecewa karena ternyata di Sorong tidak banyak penduduk asli. Disini banyak sekali pendatang dari Jawa, Sunda dan lain sebagainya. Banyak orang datang ke Papua melalui program transmigrasi dan banyak sekali suku Jawa yang mengikuti program ini. Saya terus berkendara untuk melihat-lihat sekitar Sorong. Di Sorong tidak banyak yang bisa di lakukan dan setelah melihat-lihat sekitar saya merasa bosan dan keesokan harinya saya ikut kapal ke Waisai.Sebenarnya ada kapal cepat menuju Waisai dan hanya memakan waktu dua jam saja, tetapi kapal ini tidak bisa membawa motor saya.

544_20150201_171131

Sorong #1

544_20150202_120050

Sorong #2

Setelah sampai di Waisai, saya memutuskan untuk tidak pergi ke Wayag yang merupakan ikon dari Raja Ampat. Untuk sampai ke Wayag dibutuhkan biaya yang sangat besar sekali. Saya harus menyewa kapal seharga hampir lima belas juta. Sebenarnya biaya ini bisa dibagi jika banyak orang yang ingin ke Wayag akan tetapi tetap saja budget saya tidak mencukupi. Saya tidak kecewa tidak pergi ke Wayag dan memtuskan untuk jalan-jalan sekitar Waisai. Waisai cantik sekali akan tetapi sayngnya tempat pembuangan sampah disana  masih sangat buruk dan ketika berjalan-jalan saya menemukan banyak sekali sampah di pinggiran jalan, sedih sekali melihat surga tropikal rusak gara-gara sampah.

544_Together3_j

Pasar Pagi murah di Waisai

544_20150204_084631

Batu yang menyerupai wajah manusia

544_20150203_075315

Jalan – jalan sekitar Waisai

544_20150204_083247

Sampah di pinggir jalan

Di Waisai, saya memutuskan untuk berkemah di Pantai WTC (Waisai Torang Cinta) yang kira-kira artinya Waisai yang kita cinta. Ada beberap keluarga yang tinggal di toko-toko sekitar pantai yang tidak terpakai lagi. Awalnya mereka membangun pantai ini dan membuatnya cantik lima bulan sebelum even “ Sail Raja Ampat” dimana even ini akan dihadiri presiden Bambang Yudiono. Namun sayang sekali lima bulan setelah even ini diselenggarakan pantai ini rusak dan tidak terawat lagi. Hampir semua toilet rusak dan ada lobang di sekitar pantai. Sayang sekali pemerintah membuang banyak dana untuk membuatnya terlihat cantik dan tidak merawatnya sesudahnya.

Di Papua minuman keras sudah biasa dan di pantai di malam hari biasanya banyak yang mabuk. Salah satu keluarga disana mengkhawatirkan saya dan akhirnya mereka menjaga saya hingga subuh dengan bermain kartu di sekitar rumah mereka. Keluarga ini baik sekali kepada saya dan saya sangat berterimakasih kepada mereka.

544_Together1_j

Fasilitas yang rusak semua di Pantai WTC 

544_20150204_072524

Tempat saya tidur di Pantai WTC

544_20150204_124107

Keluarga yang menjaga saya selama saya kemah di Pantai WTC

Saya akhirnya kembali ke Sorong dengan menggunakan kapal kayu dimana motor saya harus diangkat untuk meletakkannya didalam kapal. Mengejutkan sekali ternyata di dalam kapal suasananya sangat nyaman dan terdapat kasur bertingkat untuk istirahat dan saya pun terlelap dalam perjalanan empat jam ke Sorong.

544_20150204_091802

Kapal Vietnam yang disita karena penangkapan ikan ilegal

544_20150204_135117

Memasukan motor saya ke dalam kapal kayu

 

What do you think?