Papua Bagian 2

Papua memiliki beberapa masalah, saya mulai menyadari ini sesampainya saya di Papua. Masalah pertama yang saya lihat yaitu kebanyakan lelaki di Papua minum-minum beralkohol terlalu banyak dan akhirnya berakhir dengan perkelahian antar mereka. Ketika saya di Sorong saya menumpang bermalam di tempat TNI- AL , lokasinya bersebelahan dengan lapangan Hockey Sorong. Kamar saya terletak tepat bersebelahan dengan lapangan, dan ketika saya hendak beristirahat saya mulai mendengar suara orang bertengkar dan beberapa menit kemudian banyak sekali warga yang menyerbu masuk ke dalam kantor TNI-AL. Saya sedikit takut tapi para bapak tentara langsung mengusir mereka keluar dikarenakan mereka mabuk.

Di Papua masih terdapat Organisasi Papua Merdeka yang ingin Papua berpisah dari Indonesia. Dari apa yang saya lihat di Papua jika Papua berpisah dari Indonesia akan sangat sulit buat banyak orang dikarenakan di Papua juga tinggal berbagai suku lainnya yang mereka sudah lahir dan besar di Papua. Menurut saya ada agenda politik di balik semua ini. Dari yang saya lihat pemerintah Indonesia sudah mencoba membangun Papua akan tetapi gerakan Papua Merdeka menolak, saya masih tidak paham kenapa. Saya bertemu banyak sekali orang asli Papua dan mereka senang menjadi bagian dari Indonesia dan dari beberapa yang saya temui yang ingin berpisah dari Indonesia itu dikarenakan mereka kurang paham dan merasa lebih keren jika di dukung oleh negeri barat. Banyak etnis yang sudah tinggal lama di Papua dan merasa Papua adalah rumah mereka. Banyak group di media sosial yang memberitakan pemberitaan salah dan para pembaca yang tidak pernah menginjakan kaki ke tanah Papua memberi komentar negatif tanpa tahu kejadian yang sesungguhnya. Saya hanya berharap para orang-orang untuk lebih bijak dan tidak mudah terprovokasi dengan apa yang mereka baca dari media.

Masalah terbesar kedua adalah malaria. Ya, malaria merupakan pembunuh nomer satu di Papua. Saya bertanya kepada lebih dari sepuluh orang apakah mereka pernah terkena malaria dan hampir semuanya menjawab “ya” dan berbicara seolah-olah itu hal yang wajar terjadi di Papua. Banyak orang yang mengkhawatirkan saya akan terkena malaria juga. Beberapa bikers yang datang ke Papua harus pulang dan menghentikan perjalanan mereka karena terkena malaria. Saya ketakutan terkena malaria karena saya tidak tahu kalau ternyata Papua merupakan daerah endemik malaria, bodohnya saya. Tidak banyak yang bisa saya lakukan tetapi sejak saya tahu Papua merupakan daerah endemik malaria saya mulai minum obat prophylaxis dan yang paling mudah didapatkan adalah doxycycline, Saya benci obat ini karena membuat saya mual selama lebih dari sejam setelahnya tapi terpaksa harus diminum karena tidak mau terkena malaria dan perjalanan saya berakhir. Hal lain yang saya lakukan yaitu dengan memakai banyak lotion anti nyamuk dan tidur selalu menggunakan kelambu. Saya merasa itu berhasil karena selama saya di Papua saya tidak terkena malaria.

Papua merupakan pulau yang besar namun tidak banyak akses jalan yang tersedia, transportasi utama disini adalah kapal atau pesawat terbang. Hal terberat dalam membangun Papua adalah pembebasan lahan dikarenakan banyak tanah di Papua masih merupakan tanah adat. Jika salah satu keluarga menjual tanah, anggota keluarga yang lain dapat merasa mereka tidak menjualnya sehingga tanah itu masih milik mereka. Dari Sorong saya harus menyebrang dengan kapal untuk menuju Jayapura. Kapal ini penuh sekali dan saya belum pernah melihat manusia sebanyak itu di dalam kapal sebelumnya. Ketika saya akan menuju Jayapura kapal sangat penuh dikarenakan mereka akan memperingati Injil Masuk Papua dan semua orang akan menuju Manokwari. Di karenakan mayoritas di Papua adalah Kristen mereka melakukan perjalanan ziarah ke Manokwari untuk memperingati pertamakali Injil Masuk Papua. Saking banyaknya umat manusia sangat sulit sekali untuk berjalan di koridor kapal karena banyak sekali orang yang tidak kebagian tempat duduk dan mereka duduk di lantai. Menurut saya kapal ini lebih mengerikan daripada kapal sapi yang membawa saya ke Sorong karena di kapal ini banyak sekali copet dan banyak sekali orang berkelahi ditambah lagi banyak yang buang air kecil sembarangan atau di botol dan dibiarkan berserakan di lantai..mengerikan sekali.

Inside the ferry from Sorong to Jayapura

Suasana di dalam Kapal menuju Jayapura

Karena saya mendapat ijin khusus untuk naik kapal ini saya bisa duduk di kantor satpam. Saya merasa lebih nyaman disini sampai ada salah satu penumpang kapal datang dan ketakutan, dia bilang orang-orang di luar semuanya mengancam dia dan dia merasa tidak aman. Ternyata dia memiliki waham curiga dan merasa banyak orang yang menjelek-jelekannya, mengancam ingin membunuhnya dan lain sebagainya. Hal ini saya sadari setelah berbincang-bincang dengan dia, dia bilang banyak orang Papua yang mengancam membunuhnya tanpa alasan yang jelas dan dari ceritanya banyak yang tidak masuk akal. Saya akhirnya mengambil kesimpulan bapak ini memiliki waham karena saya tidak kenal bapak ini sebelumnya dan tiba-tiba ketika saya buka handphone saya, dia tanya ke saya “ orang-orang email yang jelek-jelek ya tentang dia” saya kaget dan langsung bilang “ maaf bapak saya tidak kenal bapak sebelumnya dan tidak ada dari teman-teman saya yang tahu bapak”. Akhirnya pak satpam mengusir bapak ini pergi dan meyakinkan kalau diluar semuanya baik-baik saja dan dia hanya ketakutan. Bapak ini pergi sebentar dan kembali lagi ketika saya sedang tidur. Di dalam ruangan satpam ini terdapat dua sofa panjang satu saya pakai tidur dan ternyata satunya lagi di pakai bapak itu untuk tidur. Tiba-tiba saya terbangun dengan bau busuk yang sangat menyengat dan bapak satpam yang marah-marah, eh ternyata bapak itu buang air besar di celana dan membuat semua sofa kotor dan semua ruangan berbau busuk. Pak satpam berusaha membersihkan sofa dan menyemprot banyak sekali parfum ruangan namun susah sekali untuk menghilangkan bau busuknya. Saya merasa sangat kasihan pada bapak itu dan setelah kami berbincang-bincang saya menyarankan dia untuk mendapatkan pertolongan kejiwaan dan bapak itupun setuju untuk mendapatkan pertolongan kejiwaan sesampainya dia di Jayapura.

The poopy spot

Sofa tempat si bapak buang air besar di celana

Sebelum saya meninggalkan Sorong saya mengalami masalah dengan aki motor saya dan dikarenakan saya tidak punya banyak waktu, saya tidak sempat memperbaikinya di Sorong. Sesampainya saya di Jayapura saya langsung mencari bengkel. Di bengkel ini lah awal pertemuan saya dengan salah satu bikers Jayapura yang akhirnya mereka mengenalkan saya kepada banyak anak komunitas bikers di Jayapura. Dari salah satu bikers ini saya dikenalkan dengan sesepuh bikers di Jayapura dan diundang untuk menginap dirumah nya. Selama saya di Jayapura saya menginap dirumah bapak ini.

Saying goodbye to the family where i stayed while in Jayapura

Bersama dengan keluarga sesepuh bikers Jayapura, Pak Fredy.

Saya menghabiskan waktu lima hari di Jayapura. Di hari pertama saya menuju perbatasan antara Indonesia dengan Papua Nugini. Di perbatasan sedang ada perayaan akan tetapi saya kurang jelas perayaan apa yang pasti melibatkan suku Papua dan Papua Nugini.

Me, with the soldier closed to Jayapura and Papua New Guinea

Saya bersama tentara di dekat perbatasan Jayapura dan Papua Nugini

Celebration at the Border #1

Perayaaan di perbatasan #1

Celebration at the border #2

Perayaan di Perbatasan #2

Saya juga mengunjungi tugu MacArthur di Sentani dan berkeliling Jayapura.

Mac Arthur monument

Tugu MacArthur 

Skyline Jayapura

Skyline Jayapura

Holtekamp Beach

Pantai Holtekamp 

Jayapura view #1

Pemandangan di Jayapura 

Para bikers di Jayapura datang mengunjungi saya di rumah Pak fredy yang merupakan sesepuh bikers di Jayapura. Keesokan harinya mereka mengajak saya untuk menservis motor saya dan mengganti ban. Saya ceritakan trauma saya ketika piston karburator saya dilem di bengkel resmi di Kalimantan dan mereka paham kekhawatiran saya dan memastikan semua baik-baik saja. Saya di layani dengan sangat baik di bengkel resmi di Jayapura..

Me with the bikers

Saya dan para bikers di Jayapura

Changed my back tire

Ganti Ban

Di Sentani saya mengunjungi TNI AU untuk menanyakan jadwal pesawat Hercules dan apakah saya boleh menumpang untuk menuju Merauke dan Wamena. Saya mendapat sambutan yang sangat baik sekali dan diperbolehkan ikut dengan pesawat mereka. Dari Jayapura saya akan terbang ke Wamena dan setelah itu terbang lagi menuju Merauke.

My bike first time flying #1

Motor saya pertama kali terbang #1

My bike first time flying

Motor saya pertama kali terbang #2

 

Loading my bike to Hercules (Air Plane)

Memasukan motor saya ke dalam Hercules

Di Wamena untuk pertama kalinya saya melihat bandara seperti terminal bus. Lucu dan menarik sekali melihat banyak sekali orang berlalu lalang dan anak-anak bermain sepeda diseputar runaway dan ketika ada pesawat yang medarat orang-orang akan menepi. Sampai saat ini untuk menuju Wamena hanya bisa ditempuh dengan pesawat terbang karena Wamena berada di atas gunung dan belum ada jalan tembus, sebenarnya sudah ada jalan tembus akan tetapi masih belum bisa dipergunakan karena faktor keamanan.

Makanan mahal sekali di Wamena karena harus diterbangkan dengan pesawat terbang dan penduduk lokal banyak yang belum mampu membeli kendaraan sehingga mereka masih banyak yang berjalan kaki.

Wamena's airport and runway

Bandara Wamena

Para tentara tidak memperbolehkan saya pergi terlalu jauh dari kota jadi saya hanya berkendara di seputaran kota Wamena saja. Di pasar Wamena salah satu orang yang mungkin mabuk memukul pantat saya keras sekali dan dia juga memaksa saya untuk membayarnya untuk foto yang saya ambil. Lucu sekali karena ketika saya akan mengambil gambar di seputar pasar dia bersikeras untuk berpose untuk saya. Ternyata banyak para suku di Wamena menjadikannya turis yang akan mengambil gambarnya sebagai bisnis, jadi jika hendak mengambil gambar biasanya kita harus membayar. Akhirnya saya meninggalkan pasar dan kembali ke pangkalan militer untuk kembali terbang ke Merauke.

Wamena market

Pasar di Wamena

The drunken guy who insisted to pose for me and later on slap my bike

Orang mabuk yang memukul pantat saya

It is not allowed to open the shops on Sunday becaus they have to go to the church

So many pigs walking around on the roads

Banyak sekali babi di jalanan

Saya tidak sabar untuk cepat-cepat sampai Merauke karena akhirnya saya bisa menjejakkan kaki di akhir Indonesia. Ketika sampai di bandara Merauke saya langsung menuju perbatasan untuk melihat akhir Indonesia. Dari bandara saya harus berkendara sekitar kurang lebih 80km atau kurang lebih dua jam untuk sampai ke perbatasan. Setelah saya melewati rumah penduduk saya memasuki Taman Nasional Wasur dimana di tempat ini kamu bisa melihat Musamus atau rumah semut, sangat menarik sekali dan di pinggir jalan banyak sekali pohon teratai yang tumbuh di rawa-rawa, indah sekali.

Wasur National Park

Taman Nasional Wasur 

Musamus, the house of Papua's ants

Rumah Semut, Musamus

Lotus pond on the side of the roads to Merauke

Teratai di pinggir jalan menuju perbatasan

Ketika akhirnya saya sampai di perbatasan antara Indonesia dengan Papua Nugini saya sedikit kecewa karena saya kira akan ada sebuah kampung di perbatasan ternyata perbatasan ini hanya dibatasi hutan yang mengarah ke Papua Nugini dan di batasi oleh pasak-pasak yang dibangun untuk menandai wilayah Indonesia. Tapi tidak apa-apa setidaknya saya merasa beruntung sekali bisa menginjakkan kaki di perbatasan akhir Indonesia sebuah tempat yang dulunya hanya bisa saya dengar dari lagu nasional “ Dari Sabang Sampai Merauke”. Saya merasa bangga dan bersyukur bisa mendapatkan pengalaman ini.

The Merauke border monument

Monumen perbatasan Merauke

What do you think?