Cerita dari Sumbawa

Seperti ratusan suku Bali lainnya, namanya adalah “Nyoman”, tapi biasa di panggil “Oman”. Pertama kali saya bertemu dengan dia, dia langsung menyapa saya ramah “ Hallo Tante!” dengan senyum lebar di bibirnya. Seorang bapak yang saya temui di kapal dari Lombok menuju Sumbawa menyarankan saya untuk beristirahat di Vihara ini, di Vihara ini keluarga Oman tinggal. Vihara ini dapat dicapai dalam waktu kurang lebih dua jam dari pelabuhan. Saya harus melihat dengan seksama karena tidak ada papan nama terdapat di depannya dan ketika saya sampai hari sudah gelap. Di siang hari kamu dapat melihat Pagoda dari kejauhan tapi sangat sulit dimalam hari karena kondisi yang gelap.

544_20150331_082219

 Vihara

544_20150328_112207

Oman dan anjingnya, Jolie

544_20150327_135217

Pemandangan dari ruang sembahyang tempat saya tidur

544_20150331_162436

Anak- anak bermain bersama para binatang

Vihara ini dibangun di tebing di pinggir laut. Ada sebuah keluarga kecil dari Bali yang merawat vihara ini dan walaupun mereka beragama Hindu, itu tidak menjadi masalah karena mereka saling menghormati. Keluarga ini memiliki seorang anak laki-laki (Oman), seorang anak perempuan dan satu sepupu laki-laki dan banyak sekali binatang peliharaan. Mulai dari beberapa kucing, beberapa anjing, ayam bahkan juga rusa yang jinak sekali. Mereka semua hidup dengan sangat harmonis.

544_20150401_134132

Pemandangan di sekitar vihara #1

544_20150401_124133

Pemandangan di sekitar vihara #2

544_20150328_121117

Ibu Oman dan dery sang rusa

Mereka membiarkan saya tidur di ruang sembahyang yang sudah tidak terpakai lagi karena sudah memiliki gedung baru. Dimalam pertama saya tidur sendirian dan keesokan harinya Oman dan sepupunya tidur bersama saya, jadi kami bertiga tidur di ruang sembahyang bersama-sama. Di malam hari saya harus memastika pintu gerbang terkunci karena kalau tidak biasanya semua anjing akan mendatangi dan membangunkan Oman untuk bermain dengannya. Ruang sembahyang ini terletak di ruang terbuka yang di batasi pintu teralis besi.

544_20150327_112510

Dery lagi santai

Saya sangat menyukai keluarga ini dan saya rasa mereka pun juga menyukai saya. Saya akhirnya menghabiskan lima hari bersantai disana dan bermain dengan anak-anak. Suatu hari kami bermain ketapel yang mereka buat sendiri, Oman melihat saya menggunakan kayu yang saya temukan di lapangan untuk berjalan karena saya kesulitan untuk berjalan di rerumputan tanpa alat bantu dan Oman berjanji membuatkan saya tongkat untuk berjalan karena menurut dia tongkat kayu yang saya pakai berbahaya dan bisa melukai saya kalau saya terjatuh ( ada bagian runcing di tongkat ini), saya katakan kepadanya saya sebenarnya sudah mempunyai tongkat besi yang tidak pernah saya pakai.

544_20150328_154151

Makan rujak di pinggir tebing

544_20150331_174932

Oman dan ketapelnya

544_20150329_172821

Oman, sepupunya Nunu dan saya jalan-jalan ke pantai

544_20150401_090130

Orang tua Oman

Keesokan harinya sepulang sekolah Oman langsung menghampiri saya dan datang dengan tongkat baru yang dia buat sendiri. Tongkat ini mirip sekali dengan tongkat alat bantu biasa akan tetapi sedikit terlalu pendek buat saya, saya terkagum-kagum entah dari mana dia mendapatkan tongkat itu. Karena tongkat terlalu pendek Oman terus bilang ke saya dia bisa membuatkan satu lagi untuk saya jika saya mau tapi saya menolak dan tetap menggunakan tongkat kayu yang saya temukan. Sejak saat itu setiap kali saya berjalan tanpa tongkat Oman akan datang menghampiri saya dan membawakan tongkat saya dan bilang kalau saya harus menggunakannya setiap saat biar saya tidak jatuh. Dan tiap kali kami bermain di lapangan dia selalu mencoba menggandeng tangan saya dan membantu saya berjalan. Ya ampun terharu sekali dan saya tidak percaya kalau dia masih Sembilan tahun.

Oman tidak pernah berhenti membuat saya terkagum-kagum. Suatu hari saya membuat kue pisang coklat untuk mereka dan mereka suka sekali. Keesokan harinya sebelum pergi sekolah Oman bertanya pada saya berapa lama saya akan tinggal disini “satu bulan?, dua bulan?” saya tanya “kenapa?” dan Oman bilang “kita bikin bisnis yuk tante!” trus saya tanya lagi “bisnis apa?” Oman jawab “Jualan kue”. Oman bilang, saya buat kue dan dia akan jual keteman-teman sekolahnya. Ya ampun cerdas sekali anak ini.

Sepulang dari sekolah dia langsung menghampiri saya dan memeberikan tulisan yang dia buat dari sekolah. Oman bilang dia membuat resep untuk saya. Supaya setiap kali saya membuat kue saya bisa menggunakan resep yang dia kasih. Saya tanya dari mana dia dapet resepnya dan dia bilang dia salin dari kotak bungkus keju yang dia makan di sekolah. Sebenernya yang ditulis Oman bukan resep tapi bahan-bahan yang terdapat dari keju tersebut. Oman lucu sekali, dia bahakan menamai resepnya dengan Resep Oman. Dia terus menanyakan ke saya apakah saya bisa datang ke ulang tahunnya di bulan Agustus dan membuatkan kue untuk dia dan dia bilang dia akan datang ke rumah saya ketika ulang tahun saya. Oman lucu dan menggemaskan sekali sangat susah untuk tidak jatuh cinta pada bocah lucu ini.

544_20150401_063754

Resep yang ditulis Oman untuk saya

Ibu Oman juga menerima catering dan saat itu ada pesanan nasi tumpeng untuk ulang tahun. Saya membantu mendekorasi nasi tumpeng yang sebelumnya belum pernah saya lakukan hanya bermodal dari mbah google. Hehe.

544_20150331_172145

Nasi Tumpeng

Bapak yang mengenalkan saya pada vihara ini punya peternakan dan kebun di dekat vihara. Saya dan Oman berkunjung ke peternakan dan kebunnya. Ketika di peternakan disana saya baru tahu ternyata Oman sangat jago menirukan suara binatang dan sangat mirip sekali

Oman membuat Sumbawa berkesan sekali buat saya dan saya berharap bisa berkunjung lagi kesana suatu hari nanti.

544_20150328_165458

Peternakan #1

544_20150328_165624

Peternakan #2

544_20150328_180127

Adu Ayam

 

What do you think?