Dari Sumbawa Ke Lembata

Dua hari sebelum saya meninggalkan Sumbawa, Tenggorakan saya mulai sakit diikuti dengan gejala flu. Saya kira cuma flu biasa jadi saya tetap melanjutkan perjalanan saya. Dari Sumbawa saya menuju Sape tempat saya akan menyebrang menuju Labuan Bajo, Flores. Saya bersemangat sekali untuk ke Flores karena saya mendengar banyak cerita indah dari beberapa orang yang saya temui. Bebrapa orang juga mengingatkan saya tentang jalanan Flores yang dipenuhi tikungan tajam dan rawan longsor dibeberapa tempat.

So many freshwater prawns farming in Sumbawa

Banyak sekali tambak udang di Sumbawa

Beatiful scenery in Sumbawa

Pemandangan yang indah di Sumbawa

Setelah delapan jam mengarungi lautan akhirnya sampailah saya di Labuan Bajo. Hujan menyapa saya sesampainya saya di Labuan Bajo dan satu hal yang saya amati bahwa Labuan Bajo dipenuhi banyak sekali turis dan harga-harga barang dan makanan disini mahal sekali. Di kapal saya melihat banyak penumpang yang membawa sayuran dari Sape, Kata mereka, di Flores sayur mahal karena tidak ada yang berkebun sayur disini. Dikarenakan hujan deras dan saya tidak enak badan saya memutuskan untuk berhenti dan mencari tempat untuk bermalam, saya melihat asrama militer ditengah kota dan menanyakan apakah saya boleh bermalam disana dan mereka membolehkan saya. Saya bermalam di salah satu kamar yang kosong disana dan setelah mandi saya langsung tidur karena kepala saya sakit sekali.

After I got my logbook done, me and the police posed for a picture together

Berfoto bersama dengan bapak polisi di Labuan Bajo

Scenery from Labuan Bajo to Ruteng #1

Perjalanan dari Labuan Bajo ke Ruteng #1

Scenery from Labuan Bajo to Ruteng #2

Perjalanan dari Labuan Bajo Ke Ruteng #2

Keesokan paginya setelah merasa lebih baik saya berpamitan kepada para bapak tentara dan melanjutkan perjalanan saya ke Ruteng. Saya bersemangat sekali ke Ruteng karena saya suka sekali udara dingin dan pegunungan dan saya sudah berniat untuk beristirahat di Ruteng beberapa hari sampai saya merasa baikan.

Ruteng #2

Ruteng 

Saya merasa ada yang salah pada diri saya tapi tetap saya abaikan dan bilang kalau ini hanya flu biasa. Saya mulai kehilangan suara saya, batuk parah, sakit kepala sekali, mulai panas dingin dan merasa lemah sekali khususnya dimalam hari. Kadang-kadang saya merasa penyakitnya main petak umpet dengan saya karena di siang hari saya merasa baikan dan dimalam hari kumat lagi. Ketika saya menuju Ruteng saat itu umat Katolik sedang merayakan Paskah dan dikarenakan mayoritas masyarakat Flores beragama Katolik maka hampir semua tempat tutup bahkan pom bensin pun tutup. Lucunya, didepan pom bensin banyak yang berjualan bensin ketengan akan tetapi sangat mahal sekali. Saya kehabisan bensin dan terpaksa membeli 1, 5 liter bensin seharga dua puluh ribu rupiah, hampir dua kali lipat harga normal saat itu.

Ketika akhirnya saya sampai di Ruteng saya langsung mencari penginapan yang murah. Saya tidak punya banyak dana untuk penginapan dan biasanya saya mencari tempat bermalam yang gratis akan tetapi dikarenakan kondisi fisik saya yang tidak memungkinkan saya harus mencari tempat beristirahat yang nyaman. Saya beruntung karena saya bertemu dengan seoarang bapak-bapak yang menyewakan kamar dirumahnya dan saya mendapat diskon setengah harga. Saya tidak suka pergi ke dokter jadi saya kira jika saya beristirahat dengan baik nantinya saya akan sembuuh dengan sendirinya dan lagian penyakit saya di siang hari biasanya lenyap. Di Ruteng batuk saya bertambah parah dan dahak saya mulai berdarah, saya pikir mungkin karena saya batuk parah jadi tenggorakan saya luka jadi saya abaikan saja. Saya beristirahat selama dua hari di Ruteng dan setelah merasa lebih baik saya melanjutkan perjalanan saya.

On the way to Mbay

Perjalanan ke Mbay

Awalnya saya berencana ke Ende akan tetapi karena salah belok akhirnya saya menuju Mbay. Saya sangat menyukai Mbay, kota kecil yang dipenuhi banyak padang rumput yang sangat cantik dan dari kejauhan bukit-bukit kecil disana terlihat seperti rumah telletubies. Saya sampai di Mbay menjelang malam dan hujan pun mulai turun dan penyakit saya kambuh lagi. Akhirnya saya menumpang tidur di asrama polisi yang kosong di sebelah kantor mereka.

Mbay

Mbay

Keesokan harinya saya berpamitan dan kembali menuju Ende. Ketika sampai di Ende saya langsung menuju tukang las karena knalpot saya bocor. Butuh waktu seharian untuk memperbaikinya. Ketika menunggu mekanik memperbaiki knalpot saya, saya bertemu dengan bapak supir truk yang saya temui di kapal dalam perjalanan ke Labuan Bajo. Dia senang sekali berjumpa dengan saya dan dia mengenalkan saya dengan teman-temannya dan mereka mengingatkan saya tentang longsor di beberapa km ruas jalan Ende. Mereka juga mengingatkan saya untuk tidak berkendara setelah gelap karena mungkin tidak dapat melihat batu jatuh dari tebing ke jalanan. Jalanan di Ende dikelilingi gunung batu dan longsor merupakan masalah utama yang terjadi di tahun-tahun belakangan ini. Konon katanya ini di akibatkan oleh bahan peledak yang mereka gunakan untuk meledakkan gunung batu ketika membangun jalan. Sekarang gunung-gunung batu itu retak dimana-mana dan di musim hujan mengakibatkan longsor.

Landslide #1

Longsor #1

Vanished road not completely fix yet

Jalan amblas akibat longsor

Landslide #2

Longsor #2

Dawn in Ende

Fajar di Ende

Morning at the vanished roads

Mentari di reruntuhan jalan

Dari Ende saya terus ke Maumere lalu menuju Larantuka. Larantuka adalah tempat nantinya saya menyebrang menuju Pulau Lembata. Pulau Lembata pulau yang terkenal dengan perburuan Paus secara tradisional artinya tidak menggunakan alat modern hanya menggunakan Peledang  atau perahu kayu dan ada seorang lamafa atau juru tikam.  Ia bertugas untuk menikam ikan Paus hanya dengan tempuling atau tombak.

Di Larantuka saya bermalam di rumah warga sambil menunggu kapal yang akan membawa saya menuju Lembata. Saya masih tidak enak badan dan suara saya hilang dan keluarga ini dengan baiknya membelikan obat batuk untuk saya. Malam pertama disini mereka membakar ikan untuk saya, lezat sekali. Indonesia Timur terkenal dengan hasil lautnya dan ikan-ikan disini sangat segar sekali dan juga sangat murah.

Fish market in Larantuka

Pasar Ikan di Larantuka

Had dinner together with local family

Ikan Bakar

Saya berpamitan kepada keluarga di Larantuka dan menuju Lembata. Di Indonesia Timur jadwal kapal yang sedikit membuat saya harus tinggal di Lembata selama satu minggu untuk menunggu kapal berikutnya. Tidak masalah buat saya karena saya saat itu sakit sekali dan hanya ingin beristirahat. Lagi-lagi saya tinggal di hotel, setelah mencari penginapan yang murah akhirnya saya menemukan “Hotel Rejeki” dan yang punya penginapan memberikan diskon lebih dari 50% kepada saya. Saya merasa beruntung sekali. Hotel ini lokasinya di pusat kota dan dekat dengan pelabuhan. Saya menghabiskan beberapa hari hanya tiduran saja karena sakit kepala yang sangat hebat dan sangat lemah. Akhirnya saya ingat teman saya yang mempunyai teman di Lembata dan memutuskan untuk mengirim pesan memberitahukan saya ada di Lembata. Sorenya langsung semua teman-temannya di Lembata datang mengunjungi saya di hotel. Salah seorang teman adalah dokter disana dan dia menyarankan saya untuk kerumah sakit dan cek darah karena dia khawatir saya terkena malaria. Awalnya saya menolak karena saya merasa tidak punya gejala malaria dan dia bilang kalau di daerah endemik gejala malaria bisa bermacam-macam mulai dari mencret, sakit kepala, batuk dan lain sebagainya. Malam itu juga saya kerumah sakit dan tes darah dan ternyata saya positif malaria. Rasanya seperti mimpi buruk yang jadi nyata karena dari yang saya baca jika tidak diobati dengan benar malaria bisa kambuh lagi sepanjang hidup kita. Untuk mengobati malaria saya harus minum dua jenis obat yang berbeda. Salah satu obat harus diminum selama tiga hari berturut-turut dan yang satunya lagi harus diminum selama empat belas hari. Sayangnya obat yang kedua saat itu tidak tersedia di rumah sakit jadi saya harus menunggu dua hari untuk mendapatkan obat tersebut.

Positive malaria

Hasil tes malaria : positif! 

The medicine

Harus minum semua obat ini :(

Lamalera adalah sebuah desa yang terletak di pesisir pantai selatan Lembata dan Lamalera terkenal dengan tempat berburu Paus secara tradisional yang telah dilakukan selama ratusan tahun. Saya tidak yakin akan perasaan saya terhadap perburuan Paus. Di satu sisi berburu Paus secara tradisional terdengar sangat menarik dan di satu sisi saya merasa itu sangat kejam. Saya bertanya banyak tentang hal ini dengan warga sekitar. Mereka mengatakan ada ritual khusus yang harus dilakukan sebelum berburu dan biasanya Paus yang akan menjadi korban telah mengetahui bahwa dia akan mati dan akan memisahkan dirinya dari kelompok Paus. Biasanya perburuan Paus dimulai di awal Mei dan berakhir di akhir September. Akan tetapi ketika saya di sana mereka sudah mulai berburu dan itu belum masuk bulan Mei. Salah satu teman saya disana mendapatkan informasi bahwa ada Paus yang ditangkap dan mereka akan mulai memotong Paus keesokan harinya setelah pulang dari gereja. Dari tempat saya menginap ke Lamalera membutuhkan waktu sekita empat jam dan saya berencana untuk pergi melihat ritual perburuan Paus ini walaupun saya merasa kurang sehat saat itu. Saya kesana dibonceng teman saya karena saya merasa kurang sehat untuk mengendarai motor saya dan ditambah lagi jalanan di Lembata sangat jelek sekali, seperti tidak pernah di perbaiki sejak dari pertama kali di buat. Di perjalanan ban motor teman saya bocor dan tempat tambal ban jauh sekali dan kita harus menunggu bantuan dari teman yang lainnya untuk ke tambal ban dan setelah selesai menambal ban hari sudah siang dan mereka bilang saya terlihat pucat sekali. Kami memutuskan untuk pulang dan tidak pergi ke Lamalera karena prosesi sudah selesai dan saya harus istirahat. Saya merasa tidak menyesal tidak pergi untuk melihat prosesi perburuan dan pemotongan Paus karena saya mungkin tidak tahan dengan apa yang akan saya lihat dan bau darah dari Paus yang dipotong.

Setiap tahun banyak para wisatawan yang datang ke Lamalera untuk menyaksikan perburuan Paus ini. Tingginya minat wisatawan untuk melihat perburuan ini maka perburuan Paus jadi meningkat dan ditambah lagi pemerintah mulai mempromosikan perburuan ini sebagai salah satu wisata budaya. Ini sangat menyedihkan karena dari yang saya dengar mereka tidak hanya berburu Paus tapi juga Lumba-lumba dan Hiu. Dikarenakan kepopulerannya wisata budaya ini dapat mengancam populasi dari Lumba-Lumba, Hiu atau Paus, yang menurut saya sangat menyedihkan.

Whale bones at the beach

Tulang Ikan Paus 

Saya menghabiskan hari-hari terakhir saya di Lembata dengan teman-teman baru saya dari Lembata. Kami pergi ke pantai, minum kelapa muda dan makan jagung titi. Sangat menyenangkan sekali. Ketika kapal yang akan membawa saya ke Alor tiba mereka beramai-ramai mengantar saya ke pelabuhan dan menunggu hingga kapal saya berangkat. Menyenangkan sekali bisa mempunyai teman-teman baru yang sangat menyenangkan.

Jagung Titi

Jagung Titi

Last day in Lembata #1

Hari terakhir di Lembata #1

Last day in Lembata #2

Hari terakhir di Lembata #2

Last day in Lembata #3

Hari terakhir di Lembata #3

Last day in Lembata #4

Hari Terakhir di Lembata #4

 

What do you think?