Malaria di Kupang

Setalah semalaman di kapal akhirnya saya sampai ke Alor. Surganya para penyelam. Alar memang terbukti sangat indah dan masih alami. Saya berkendara mengelilingi pulau. Di malam harinya saya mulai terkena demam tinggi dan sakit kepala hebat serasa mau pecah, saya belum pernah mengalami sakit kepala sehebat ini sebelumnya. Saya memaksakan diri untuk ke kantor polisi untuk mengisi buku perjalanan saya dan disana pak polisi menawarkan saya untuk bermalam di asrama polisi wanita dan itu pengalaman yang sangat buruk.

Saya tidak mau terdengar tidak bersyukur atas kebaikan yang diberikan kepada saya tapi sejauh ini itu merupakan pengalaman paling buruk yang pernah saya alami. Saya tidak tahu apakah itu karena saya sedang sakit atau memang mereka sangat ribut sekali. Asrama ini sebuah rumah kecil dimana beberapa anggota polisi wanita yang baru lulus tinggal bersama.

Ketika saya datang hanya satu orang anggota polisi wanita yang berada disana, yang lainnya sedang ke gereja. Polisi wanita ini sangat baik sekali dan menyilahkan saya untuk berisitirahat akan tetapi saya tidak bisa mandi dikarenakan air di asrama mereka tidak menyala dan dia mengangkatkan seember air untuk saya mencuci muka dan menyikat gigi. Selesai mencuci muka dan sikat gigi saya menanyakan dimana bisa mencharger handphone dan power bank saya dan dia pun menunjukkan tempatnya setelah itu saya langsung tidur karena sakit kepala yang tak tertahankan akan tetapi saya tidak bisa tidur. Tak berapa lama anggota polisi wanita lainnya pun pulang dan mereka pun mulai berbicara sangat keras dan salah satu anggota polisi mencabut charger saya dan memakai powerbank saya untuk mencharger handphonenya. Saya rasa itu sangat tidak sopan sekali tapi saya tidak mengatakan apapun. Lalu ditengah malam ketika bebrapa sudah tertidur lelap datang beberapa orang polisi wanita lagi dan mulai berbicara sangat keras dan ribut sekali. Saya tidak tahan lagi tinggal di asrama itu tapi kalau saya pergi di tengah malam saya merasa itu sangat tidak sopan akhirnya saya menunggu subuh dan berpamitan dengan polisi wanita yang awalnya menyambut saya dan pergi meninggalkan asrama itu. Saya masih tidak yakin apakah mereka yang sangat ribut atau karena saya sedang sakit.

Alor

Alor 

544_20150414_143201

Rumah tradisional di Alor

544_20150414_143953

Jalan-Jalan di Alor

544_20150414_152432

Kolam Bidadari 

Di Indonesia Timur jadwal kapal sangat tidak pasti dan tidak selalu tersedia. Karena saya merasa sangat sakit dan tidak kuat lagi saya memutuskan untuk keluar dari Alor dan langsung menuju Kupang, setidaknya jika saya kenapa-napa saya bisa langsung di rawat di rumah sakit yang lebih memadai. Di kapal saya tidak kuat lagi badan saya demam tinggi dan diikuti sakit kepala hebat  juga batuk dan muntah-muntah, saat itu saya berfikir saya akan mati.

Kapal sampai di Kupang sekitar pukul 3 pagi dan saya langsung ke rumah sakit terdekat. Saya menuju Unit Gawat Darurat dan hanya ada tukang bersih-bersih disana. Ternyata ada seorang perawat di reseptionis yang dibangunkan oleh bapak tukang bersih-bersih. Perawat ini menyuruh saya untuk tiduran dan menunggu di ruangan Unit Gawat Darurat. Saya menunggu kurang lebih sekitar dua jam dan tidak ada orang yang datang memeriksa, Awalnya saya kira karena ini rumah sakit kecil jadi mereka tidak buka 24 jam dan harus menunggu pagi tetapi untuk apa ada Unit Gawat Darurat kalau tidak buka 24 jam. Sampai akhirnya sekitar pukul lima pagi saya mendengar suara orang mengorok dan saya keluar untuk melihat ternyata perawat tadi kembali tidur!! Saya merasa kaget, marah, tapi tak punya energi untuk marah dan akhirnya saya bangunkan dia tapi bukan dia yang terbangun ternyata ada perawat lain dan dokter jaga yang tidur di ruangan lain, sungguh luar biasa rumah sakit ini. Penyakit saya biasanya membaik menjelang pagi dan karena pelayanan yang buruk sekali saya memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit ini dan mencari rumah sakit lainnya. Bahkan sampai sekarang kalau saya ingat-ingat kejadiannya masih bikin saya geram sendiri. Setelah melakukan tes laboraturium di rumah sakit lain saya kemudian berisitirahat di penginapan sekitar yang saya temukan dan berisitirahat total selama lima hari sampai saya merasa baikan kembali.

544_20150416_131227

Tes darah di Rumah Sakit #1

544_20150416_131338

Tes darah di Rumah Sakit #2

Setelah saya sembuh dari penyakit yang mengerikan saya kembali ke jalanan dan langsung menuju perbatasan Indonesia dengan Timor Leste. Saya tidak pergi ke Timor Leste karena ke Timor Leste membutuhkan visa dan harus bayar 30$ dan itu di luar budget saya dan ditambah lagi mata uang yang di gunakan di Timor Leste adalah dollar dan itu membuat semuanya jadi lebih mahal.

Di perjalanan ke perbatasan knalpot saya lepas. Kedua baut knalpot saya patah di dalam. Dua orang pengendara lainnya berhenti untuk menolong saya, setelah menunggu knalpot agak dingin mereka membungkus knalpot dengan daun pisang. Saya harus meneruskan perjalanan saya tanpa knalpot dan saya merasa malu sekali karena motor saya mengeluarkan suara yang sangat memekakkan telinga dan saya merasa semua perhatian jadi tertuju ke saya. Di Kefamanu saya berhenti di sebuah bengkel dan yang punya bengkel menawarkan saya untuk bermalam dirumahnya.

544_20150419_144654

Knalpot lepas

544_20150418_170549

Jalan-jalan Kupang #1

544_20150418_171320

Jalan-jalan Kupang #2

544_20150419_133200

Rumah Tradisional di Kefamanu

544_20150420_075411

Bapak mekanik dan istrinya

Keesokan paginya saya berpamitan dan langsung menuju perbatasan,setelah itu kembali lagi ke Kupang dan tinggal dengan keluarga yang saya kenal dari couchsurfing.

On the way to the border

Perjalanan menuju perbatasan #1

544_r_20150407_081858

Perjalanan menuju perbatasan #2

At the Border #1

Di perbatasan dengan Timor Leste #1

At the Border #2

Di perbatasan dengan Timor Leste #2

Keesokan malamnya saya menumpang kapal barang menuju Surabaya. Perjalanan dari Kupang menuju Surabaya ini merupakan perjalanan terlama yang saya tempuh dengan kapal. Di kapal sangat membosankan sekali karena jika melihat keluar tidak banyak yang bisa di lihat hanya laut lepas dan tidak ada yang lain. Sangat senang sekali ketika akhirnya saya sampai di Surabaya dan merasa sangat lega karena kapal ini akan menjadi perjalanan terakhir saya paling lama dengan kapal.

544_r_20150423_033054

Menaikan motor saya ke kapal #1

544_20150423_033133

Menaikan motor saya ke kapal #2

What do you think?