Sumatera Bagian 1

Di sepanjang perjalanan saya banyak orang yang menanyakan “ Bagian Indonesia mana yang tersulit dari perjalanan ini? ”. Sebelum saya sampai di Sumatera jawaban saya selalu Kalimantan dikarenakan jalanan disana yang jelek sekali di berbagai tempat dan seringkali motor saya rusak karenanya.

Saya semangat sekali untuk sampai di Sumatera. Awalnya saya pikir Sumatera akan lebih mudah karena saya berasal dari sini dan juga karena ini tempat yang tidak asing lagi buat saya. Ternyata Sumatera merupakan perjalanan yang tersulit dikarenakan banyak sekali hal buruk yang terjadi ketika saya sampai di Sumatera. Saya terus mengingatkan diri saya bahwa tidak ada yang bilang perjalanan ini akan mudah.

Sesampainya saya di Padang saya ke bengkel resmi motor saya dan ke tukang las untuk memperbaiki plat-plat besi  di roda saya. Di bengkel resmi kita perbaiki semuanya dan saya juga mengganti ban belakang saya. Beberapa kali saya sudah mengingatkan kepada mekanik untuk berhati-hati karena saya trauma dengan bengkel di karenakan ketika saya di Kalimantan, begitu  keluar dari bengkel resmi motor saya jadi tambah rusak karena mereka mengelem piston karburator motor saya. Para mekanik meyakinkan saya kalau mereka akan berhati-hati dan semuanya akan baik-baik saja. Setelah mereka selesai, saya mengendarai motor saya menuju rumah teman saya, di tengah jalan tak jauh dari bengkel motor, roda motor saya lepas dan saya terjatuh di jalan raya. Saya beruntung saya tidak jatuh ke bawah truk sebab kalau saya jatuh ke bawah truk mungkin sekarang saya sudah tidak disini lagi untuk menceritakan kejadian ini. Saya langsung menelpon bengkel resmi dan mereka meminta maaf dan segera menjemput saya  dan motor saya di naikan ke pickup truknya mereka. Kala itu hari sudah senja dan bengkel sudah tutup jadi motor saya hanya bisa diperbaiki keesokan harinya. Saya meminta mereka untuk tidak menyentuh motor saya sampai saya datang. Keesokan harinya mereka menjemput saya dan mulai memperbaiki motor saya dan mereka memastikan semuanya sudah layak jalan. Karena trauma saya merasa harus mencoba motor saya sejauh 20 km, setidaknya untuk memastikan segala sesuatunya sudah layak jalan. Kali ini, baut roda yang lainnya lepas dan karena saya sudah lelah bolak-balik bengkel resmi dan motor saya belum juga sembuh akhirnya saya pergi ke bengkel lain yang direkomendasikan teman saya dan akhirnya bengkel ini memperbaiki semuanya dan saya bisa melanjutkan perjalanan saya kembali.

544_20150821_095240

Bengkel Las tempat saya memperbaiki plat roda dan mudguard

544_20150825_115006

Bengkel Resmi #1

544_r_20150825_124554

Bengkel Resmi #2

544_20150825_172720

Roda lepas di jalanan #1

544_20150825_173958

Menunggu di pinggir jalan setelah dibantu orang-orang sekitar

544_20150825_180557

Motor saya di bawa kembali ke bengkel resmi

Begitu sampai di Sumatera Barat saya langsung bisa melihat dan merasakan kabut asap dari pembakaran lahan gambut di Sumatera Selatan dan Riau. Pembakaran lahan gambut ini merupakan cara yang cepat dan murah untuk membuka lahan baru untuk nantinya ditanami tanaman kelapa sawit. Kabut asap ini mulai dari Sumatera Barat sampai ke Sumatera Utara. Tahun ini merupakan tahun yang paling buruk untuk bencana kabut asap ini dan berlangsung lebih dari tiga bulan. Di Pekanbaru keadaan sangat buruk hingga mereka menutup bandara hampir dua bulan dan sekolah diliburkan hampir satu bulan ditambah lagi semua rumah sakit di penuhi pasien yang mederita radang saluran pernafasan. Kabut asap ini dampaknya sangat buruk sekali dan sayang sekali ini terjadi hampir setiap tahun. Banyaknya korupsi di Indonesia menyebabkan susah sekali bagi pemerintah untuk menindaklanjuti para perusahaan yang terbukti membakar lahan. Saya masih ingat sekitar kurang lebih dua puluh tahun yang lalu sekolah saya diliburkan karena kabut asap dan sayangnya bencana kabut asap itu masih berlangsung hingga saat ini. Kabut asap ini membuat saya mengalami kesulitan dalam berkendara karena membuat saya sakit kepala dan mual ditambah lagi harus memakai masker setiap saat, sangat tidak nyaman sekali. Dimalam hari, ketika saya harus tidur di ruang terbuka sangat sulit sekali untuk tetap menggunakan masker.

544_20150910_092340

Ruma tradisional Minangkabau di Solok #1

544_20150910_100301

Rumah tradisional Minangkabau di Solok #2

544_20150910_141229

Kabut di perjalanan menuju Payakumbuh

544_20150910_141837

Kabut di Lembah Harau

Kabut di level berbahaya di Pekan Baru

544_r_20150912_074814

Di tempat adik saya di Pekanbaru

544_20150912_083618

Bertemu dengan komunitas vespa gembel

544_20150922_154444

Ketemu komunitas vespa gembel lagi

544_20150912_150535

Kabut di perjalanan menuju Sumatera Utara

544_20150912_180837

Pom minyak tempat saya bermalam

Saya berusaha meninggalkan area yang terkena kabut asap secepat mungkin dan sangat gembira begitu sampai di area dimana saya dapat menghirup udara segar yaitu Danau Toba. Sebelumnya saya sudah pernah berkunjung ke Danau Toba dan saya sangat menyukainya. Di sekitar Danau Toba dapat ditemui banyak sekali hotel dan penginapan dengan harga beragam dan banyak juga tersedia dengan harga yang murah. Anehnya, Penginapan di Pulau Samosir ini buat para wisatawan mancanegara tarifnya jauh lebih murah dibandingkan dengan wisatawan lokal, saya juga tidak jelas kenapa. Dalam penyeberangan menuju Pulau Samosir saya bertemu dengan seorang pemandu wisata disana dan setelah bercakap-cakap dia menawarkan saya untuk bermalam di mess tempat dia tinggal bersama dengan karyawan lainnya. Setelah saya menurunkan barang-barang saya di tempat dia tinggal kami menuju hotel lainnya untuk menghadiri pesta perpisahan temannya yang akan pulang ke negerinya. Rencana awal saya adalah saya akan beristirahat beberapa malam di Pulau Samosir akan tetapi dikarenakan pembangunan jalan yang mengakibatkan putusnya kabel internet di pulau itu sedangkan saya sangat butuh sekali internet akhirnya saya mengurungkan niat saya dan keesokan harinya saya melanjutkan perjalanan saya ke Berastagi. Berastagi menyambut saya dengan udara sejuk dan dinginnya hujan.

544_r_20150914_003414

Ini adalah Cimot. Pemandu wisata baik hati yang menwarkan saya bermalam.

544_r_20150913_185710

Di kapal kayu menuju Pulau Samosir

544_20150914_072117

 Tuk-tuk Samosir

544_20150913_164810

DanauToba 

544_20150914_062050

Pagi di Danau Toba

544_20150914_073427

Rumah Batak 

544_20150914_082342

Danau Toba di pagi hari

544_r_20150914_082028

Rumah Batak Toba 

Saya menghabiskan waktu beristirahat di berastagi selama satu minggu, rasanya tidak mau melanjutkan perjalanan karena saya suka sekali disini. Berastagi adalah sebuah kota kecil yang berada di daerah pegununggan dan udara disana sejuk sekali.  Disini juga terdapat banyak sekali kuliner yang enak yang patut dicoba. Ada dua Gunung yang terdapat di berastagi yaitu Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung.  Setelah selama 400 tahun tertidur kini Gunung Sinabung bangkit dari tidurnya dan sejak bangun dari tidurnya gunung ini telah bererupsi selama hampir satu tahun. Banyak masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Sinabung harus hidup di pengungsian dan karena erupsi ini telah terjadi sebegitu lamanya banyak orang yang tidak mau lagi hidup di pengungsian dan kembali ketempat mereka untuk mengurus ladang-ladang mereka akan tetapi mereka meninggalkan anak-anak mereka di pengungsian karena akan lebih mudah untuk anak-anak ini bersekolah. Ketika saya disana, saya mengunjungi pengungsian yang dihuni anak-anak ini, mereka sangat takjub melihat motor saya. Banyak yang bilang “ mantap”  karena mereka sebelumnya belum pernah melihat motor dimodifikasi seperti ini. Saya berinteraksi dengan mereka, banyak anak-anak disini yang kurang lancar berbahasa Indonesia dan ada beberapa anak yang membantu menterjemahkannya ke bahasa Indonesia. Kami disana bernyanyi dan mereka bertanya tentang perjalanan saya dan tertawa lepas ketika saya belajar bahasa mereka. Malam semakin larut dan mereka harus beristirahat dan saya harus pulang.

544_20150915_193238

Tempat pengungsian anak-anak korban letusan Gn. Sinabung #1

544_20150915_193338

Tempat pengungsian anak-anak korban letusan Gn.Sinabung #2

544_20150915_203241

Tempat pengungsian anak-anak korban letusan Gn. Sinabung #3

544_20150915_204259

Tempat pengungsian anak-anak korban letusan Gn. Sinabung #4

Esok hari, saya dan kepala desa mengunjungi daerah kawasan berbahaya dimana semua orang yang tinggal di kampung ini harus di evakuasi. Danau Lau Kawar termasuk salah satu kawasan berbahaya dan kami pergi kesana. Di perjalanan kesana sepi sekali hanya ada kami. Kami di bolehkan ke zona berbahaya dikarenakan kepala desa memiliki radio yang akan memberitahukan jika terjadi letusan. Sehari sebelumnya terjadi erupsi yang lumayan besar dan seluruh kota Berastagi dipenuhi dengan abu.

544_r_20150915_091537

Jalanan di penuhi dengan abu

544_r_20150918_145536

Zona Merah #1

544_20150918_144249

Zona Merah #2

544_20150916_121829

Zona Merah #3

544_20150916_123234

Zona Merah #4 . Danau Lau Kawar 

544_20150915_091727

Kota Berastagi tertutup abu

Di Berastagi saya sampai di kaki Gunung Sibayak dengan motor saya. Banyak orang yang terkagum-kagum motor saya kuat mendaki dan sampai kesana karena untuk sampai ke kaki Gunung Sibayak perjalanan cukup susah dan mendaki. Saya juga mengunjungi Pagoda Lumbini yang merupakan replika dari Pagoda Shwedagon yang berada di Yangon, Myanmar.

544_20150920_142916

Di kaki Gn. Sibayak

544_20150919_130958

Lumbini #1

544_20150919_132542

Lumbini #2

Saya ingin sekali tinggal lebih lama lagi di Berastagi tetapi saya harus menyelesaikan perjalanan saya. Dengan berat hati akhirnya saya melanjutkan perjalanan saya menuju Medan.

544_r_20150922_135524

Istana Maimun 

Saya tidak menyukai Medan karena seperti kota besar lainnya Medan macet di beberapa tempat dan penuh sesak dan saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan saya menuju Aceh.

Satu pemikiran pada “Sumatera Bagian 1

What do you think?